Lukisan Expulsion et Viol, Tragedie de 1998

Cerita oleh Hadiwinata

Kami duduk sejajar, sama rendah, menatap heterogenitas dunia yang tenteram dari sebuah sudut. Seperti dedaunan, angin membawa merdu suara biola, flute, dan harmonika ke seantero taman. Lembut menyapa, seolah hendak membelai dan menyampaikan suatu pesan. Begitu juga dengan kicau burung, suara nyaring bocah, celoteh orang-orang dewasa dengan berbagai bahasa yang entah—betapa asing.

Sepasang manusia senja melintas di depan kami. Mereka saling berpegangan tangan, tertawa bersama yang membuat pipi mereka bergoyang seumpama bandul, dan sesekali memandang satu sama lain. Masing-masing seperti terkenang sebuah memori, hari-hari silam.

Ketika Diaz tiba-tiba terjaga, saya menatap sinis—sekaligus cemburu—pada pasangan remaja yang luar biasa berisik memadu kasih. Membincangkan sesuatu yang bisa kupastikan sepele, atau gombalan, atau sejauh-jauhnya hal jorok. Menyebalkan sekali.

Saya lebih menyukai pasangan yang duduk tak jauh dari mereka. Pasangan itu manis sekali. Mereka duduk bersebelahan di atas rumput, berpegangan tangan, dan tertawa bersama. Akan tetapi tidak berisik. Tidak sampai mengganggu orang-orang sekitar. Mereka juga sesekali berciuman. Tetapi ciuman adalah hal yang manis, apalagi jika didasari oleh cinta. Selain itu, ciuman juga tidak dilarang negara. Tak peduli jika pasanganmu adalah lawan atau pun sesama jenis. Itu bukan soal. Negara takkan memenjarakanmu. Oleh sebab itulah tak ada yang mengganggu mereka, atau merasa terusik. Cinta ya cinta. Cinta itu universal. Begitulah kata orang-orang di negeri ini.

Semua orang sibuk dengan kegiatan masing-masing. Semua orang sibuk dengan pasangan dan cinta masing-masing.

Saya sedang menyusui Diaz. Tetapi dia tak mampu menahan diri sampai selesai. Dia terus dan semakin asyik menggoda buah hati saya dengan setangkai rumput liar yang bunga-bunga halus terdapat di puncaknya.

Dia adalah Yue. Saudara angkat saya. Perempuan yang saya kenal setahun silam. Tempat ini, menurut Yue, adalah tempat yang damai meskipun ramai. Orang-orang dari berbagai belahan dunia—yang masing-masing memiliki warna kulit, bentuk hidung, warna dan jenis rambut, dan lain sebagainya yang khas—berkumpul pada satu tempat. Tetapi tidak ada yang saling mem-bully. Tidak ada yang saling melukai. Tidak ada yang saling menyakiti.

“Bertahun-tahun aku tak berani keluar. Aku hanya menyimpan diri di dalam kamar. Persis seperti tahanan. Seperti orang penyakitan.” jawabnya suatu waktu, ketika saya bertanya mengapa ia duduk di tempat ini untuk waktu yang lama dan selalu kembali pada lain hari.

“Bukankah jika suatu zat yang tak bisa dibuang dari sebuah wadah maka harus dilawan dengan mengisi wadah tersebut dengan zat lain yang kita inginkan dan mampu mengusirnya? Kau tahu, sepi begitu tebal dalam hidupku. Berlapis dan karatan.”

Yue berkata jika asalnya dari Indonesia. Negeri yang ia sebut sebagai negeri impian, negeri dongeng. Tetapi itu dulu. Dulu sekali. Kini Yue bahkan tak lagi mau menginjak tanah negeri itu.

Namun, saya tak bertanya ihwalnya. Saya tak mau menambah perih hatinya.

Yue adalah orang yang menyenangkan. Selama hidup, saya hanya berjumpa satu-dua orang saja yang seperti dia. Yue adalah orang yang sangat ramah, selera humornya juga bagus. Dan yang pasti, Yue adalah perempuan yang cantik.

Saya dan Yue seringkali membahas hal-hal yang lucu. Seperti misalnya mengapa menara Eifel tidak berdiri di Jakarta? Yue menjawab maka orang Jakarta pasti sudah mengungsi sejak lama karena bobot dari menara tersebut yang bisa menyebabkan tanah turun dan menyebabkan banjir. Saya terpingkal mendengar jawabannya itu. Begitu juga dengan dia. Dan, kau tahu, setiap kali ia tertawa matanya seperti terkubur di dalam wajahnya. Melihat itu membuat saya semakin terpingkal saja.

Selain itu, Yue adalah seorang yang cerdas. Saya sering bertanya-tanya: sampai di mana sekolahnya? Sebab caranya berbicara & bersikap sangatlah sopan dan beradab. Persis seorang intelektual.

“Ayo kita cari ice cream?” seru Yue sumeringah.

“Tunggu,” sahut saya. Yue tak jadi berdiri, kembali duduk. Saya bisikkan kepadanya jika bra yang ia pakai agak miring. Salah satu dari kedua moncong bra itu mengarah ke bawah sehingga tampak tidak sama rata. Tampak ganjil.

Diam-diam dan hati-hati, Yue membenahi branya. Paras aslinya terlihat kali ini—cerminan hatinya, saya yakin itu. Muram dan sesak akan kesedihan.

“Apa talinya kendur?”

“Tidak, ini bagus. Hanya saja …,”

“Di sana, di sana ice cream-nya!” tukas saya supaya ia tak perlu melanjutkan penjelasan itu. Saya cukup mengerti dan itu sudah lebih dari cukup.

Kami mulai berjalan menuju sudut lain. Pelan saja, kata Yue. Terkadang hidup menghentikan kita tanpa permisi, tanpa tahu kita berjalan atau lari demi hidup itu sendiri. Kata-katanya yang seperti itulah yang acapkali membuat saya gusar: berapa IQ Yue? Pengalaman seperti apa yang telah ia alami?

Di kanan-kiri, ke mana pun kami memandang, hanya seni dan hal-hal positif yang terlihat. Sangat menggairahkan, ujar Yue. Dan kau tahu? Bukan saya, sebagaimana biasa, justru Yue yang mendorong kereta Diaz. Ia sangat menyukai buah hati saya. Ia sangat sayang kepadanya. Saya cukup paham, Yue begitu karena belum memiliki anak—juga pasangan. Sepertinya Yue ingin. Tetapi tak perlu dipersulit. Kita cukup berintim dengan lawan jenis untuk mendapatkan seorang bayi, dengan atau tanpa ikatan pernikahan.

Ketika melihat wajahnya yang (semoga akan tetap) damai, saya teringat akan hari yang begitu mengejutkan dan mengherankan. Saat itu kandungan saya sudah mencapai empat bulan, sudah begitu tampak dan mencirikan perempuan hamil. Ibu dan ayah saya, tak melakukan apa-apa, tak marah, sekaligus tak peduli. Tetapi Yue marah. Ia seperti ingin memukul saya. Ia berteriak: “Kamu Bodoh! Kamu cantik dan pintar! Kenapa mau dibodohi orang? Lelaki biadab yang manakah itu?”

Yue berkata jika lelaki yang telah menghamili saya harus bertanggung jawab. Lelaki itu harus menikahi saya. Saya menurut. Demikianlah, saya menikah. Tetapi bukan dengan ayahnya Diaz. Ia tidak mau. Sementara Yue tidak tahu soal itu. Siapa pun, jangan pernah ada yang memberitahunya!

Saya pikir Yue marah karena ia sendiri belum menikah. Apakah saya harus bertanya-tanya lagi, kemudian mengungkapkannya kepada Yue, lalu menghentikan jawabannya karena takut menyakiti hatinya? Sungguh, Yue memang penuh dengan tanda tanya. Tetapi meski usianya tidak lagi muda dan itu jelas terlihat dari wajahnya, ia masih cantik, dengan kulit langsat dan tubuh yang ramping. Kecuali ada sedikit keganjilan setelah saya amati lebih lekat di bagian dadanya. Hal itu membuat saya bergidik—tapi saya harap dugaan itu sama sekali salah.

Setelah membeli ice cream, saya mengajak Yue melihat seorang seniman yang sedang melukis. Saya amat menyukai karya seni. Sebab mereka indah. Dan orang tua sejak kecil mengenalkan saya kepadanya.

“Bagus sekali, Paman,” kata saya selepas melihat-lihat hasil karyanya. “Indah, tapi getir, malah sama sekali pahit rasanya.”

“Terima kasih.”

Di lukisan itu, sang seniman melukis sepasang pengantin dan seorang gadis bertoga yang terkapar dan berdarah di belakangnya. Di tanah tempat gadis itu terkapar, pisau dan golok pun bergelimpangan. Darah merah segar berceceran di mana-mana, serupa air dari langit. Dan latar belakangnya, ialah kota yang hancur dengan gedung-gedung roboh dan terbakar. Asap bergulung-gulung tinggi mendaki langit.

“Apa ini perang?”

“Semacam perang saudara pada sebuah kota.”

“Lalu apa maksud dari sepasang pengantin dan wanita bertoga yang terkapar dan berdarah itu?”

“…, Karangankah lukisan ini? Imajinasi belaka?” Saya terus-menerus bertanya. Saya sangat penasaran dengan lukisan itu.

“Sialan, daya tarik lukisanku akan melemah jika kujabarkan seluruh ceritanya! Apa kau betul-betul tidak tahu?”

“Persetan! Kau tidak bisa melukis semau imajinasi dangkalmu. Kenapa kau abadikan sebuah luka yang seharusnya dipendam sangat dalam?”

Ada begitu banyak perang di dunia ini. Menyisakan luka yang mungkin takkan terlupakan selama-lamanya. Tetapi setidaknya kita berusaha untuk tidak mengingatnya. Atau mengingatkan orang lain.

Oh Tuhan! Saya kaget ketika hendak mengajak Yue pergi, saya melihat ia menangis. Air mata membasuh mukanya.

“Maaf, Paman,” Yue mengucapkan kata pertamanya setelah sedari tadi diam. “kalau boleh tahu, apa nama lukisan ini?”

“Expulsion et Viol, Tragedie de 1998.”

Kami tinggalkan seniman tua itu bersama lukisan-lukisannya, bersama imaji dan pikirannya yang cetek. Yue menghapus sungai kesedihan yang membelah paras indahnya. Saya berlari kecil ke bawah pohon Ek karena gerimis yang baru saja turun. Kami pulang ke tempat yang paling surga. (*)

Bintulu, 2017

—Pertama kali terbit di Koran Berita Pagi, 2018.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s