Migran: Migrasi dari Kemiskinan?

Persoalan Buruh Migran di Negeri Jiran

Oleh Hadi Winata

Di kampungku, Palemraya, satu kampung di Sumatera Selatan, mayoritas masyarakatnya hidup dalam kondisi tidak sejahtera. Ada yang tinggal dengan menumpang di tanah orang, di rumah orang, menyewa rumah selama bertahun-tahun, kesulitan memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari, dan lain sebagainya. Jika melihat lima kelompok kelas konsumsi di Indonesia yang dibagi oleh Bank Dunia, empat dari lima kelompok tersebut ialah mayoritas penduduk di kampungku. Lima kelompok itu ialah: kelas miskin, rentan, aspiring middle class (AMC), kelas menengah, dan kelas atas. Kelas miskin berpendapatan Rp 354 ribu per bulan, kelas rentan berpendapatan Rp 354 ribu-532 ribu, AMC berpendapatan Rp 532 ribu–1,2 juta, dan kelas atas berpendapatan di atas Rp 6 juta per bulan [1]. Sementara hanya ada satu kelas yang tidak ada yaitu kelas atas.

Kondisi tidak sejahtera yang dialami mayoritas penduduk di kampungku membuat mereka pun ingin mengubah nasib, dan naik level ke kelas atas. Satu-satunya cara yang bisa dilakukan adalah dengan mencari pekerjaan mengingat mereka tidak memiliki modal apapun selain mengandalkan fisik. Hanya saja, jumlah lapangan pekerjaan yang tidak seimbang dengan jumlah penduduk membuat banyak orang menganggur. Selain itu, upah yang rendah dan tidak sebanding dengan jam kerja turut membuat taraf ekonomi penduduk stagnan.

Malaysia, negeri tetangga yang berbatasan langsung dengan Indonesia, memiliki ekonomi yang jauh lebih baik. Kesempatan kerja yang luas dan upah yang lebih tinggi membuat banyak sekali penduduk Indonesia tertarik untuk bekerja di sana, meski harus melalui perjalanan yang sangat jauh dan menyeberangi lautan. Hal yang sama juga dirasakan oleh masyarakat di desaku. Dalam bayangan mereka, Negeri Jiran memberikan harapan baru dalam rangka mengubah nasib dan melepaskan mereka dari jerat kemiskinan.

Namun begitu, Malaysia yang dianggap sebagai tanah impian ternyata bukanlah suatu utopia. Terlebih lagi untuk para pekerja migran. Sepanjang sejarah TKI (Tenaga Kerja Indonesia), terdapat begitu banyak kasus eksploitasi seksual, eksploitasi jam kerja, kekerasan fisik, dan lain sebagainya. Sebagai contoh, kita bisa melihat kasus pemerkosaan yang yang dilakukan oleh seorang majikan terhadap empat TKW (Tenaga Kerja Wanita) di Sibu, Sarawak, pada tahun 2016; Penyiksaan Adelina–seorang TKW asal NTT–oleh majikannya di Penang, Malaysia, dan meninggal dunia di rumah sakit di tahun 2019; Beribu TKI pekerja kilang yang kerap diharuskan bekerja selama lebih dari 12 jam di beberapa kota di Sarawak; Dan segudang kasus lainnya.

Bintulu adalah sebuah kota di Sarawak, Malaysia. Setelah Kuching, kota ini adalah kota terbesar nomor dua di sana. Kota ini menjadi ramai dan maju sebab terdapat gas alam, minyak bumi, dan batu bara di wilayahnya. Selain itu, kota ini juga memiliki banyak pabrik atau kilang, yang memproduksi berbagai macam produk, yang dipakai untuk kebutuhan nasional dan diekspor ke mancanegara [2]. Dua hal inilah yang menopang ekonomi kota tersebut sehingga kini berdiri banyak mall, pasar-pasar, dan pusat perbelanjaan lainnya.

Di Bintulu, terdapat ribuan warga negara Indonesia (WNI) yang datang untuk mencari nafkah. Ada yang bekerja sebagai pelayan kedai makan, menjadi pembantu rumah tangga, bekerja di pasar, dan lain sebagainya. Namun, mayoritas TKI di sana bekerja sebagai buruh kilang, terutama kilang plywood. Di kilang-kilang, para TKI seringkali mendapat perlakuan diskriminasi, ekspoitasi jam kerja, intimidasi, tekanan yang berlebihan, pemotongan gaji, fasilitas yang tak layak (makanan, tempat tinggal, dan tempat mandi), dan lain-lain. Kondisi yang seperti ini membuat banyak TKI menderita, dan menerbitkan kemungkinan-kemungkinan terburuk. Seperti misalnya, mencuri, menjadi emosional, menjual diri, kabur, pulang kampung, dan menjalin kisah cinta tak biasa yang bertujuan untuk mengambil keutungan-keuntungan.

Kisah-kisah pekerja migran (yang menjadi bagian dari dampak buruk politik-ekonomi Indonesia) ialah cerita atau topik yang sudah luas diketahui oleh warga negara Indonesia, tapi belum begitu banyak dituangkan dalam bentuk karya film maupun buku. Kisah ini, memang, bukan kisah baru—sejarah pekerja migran Indonesia sendiri sudah dimulai sejak pengiriman WNI ke Suriname oleh pemerintah kolonial, WNI yang beribadah ke tanah suci Mekah lalu berlanjut bekerja di sana, kemudian ditindak lanjut secara serius oleh pemerintah untuk mengirim sumber daya manusia (SDM) ke beberapa negara tetangga. Akan tetapi, kisah atau topik ini tetap harus diberi ruang, karena topik ini merupakan bukti, dan salah satu bagian dari perjalanan bangsa Indonesia hingga kini. Masih ada jutaan WNI yang berekspansi ke luar negeri untuk mencari sesuap nasi, karena merasa dijatuhi hujan batu di negeri sendiri, bahkan terusir, dan dipandang rendah.

Topik kemiskinan, lapangan pekerjaan yang sedikit, dan upah yang rendah adalah topik yang penting, dan tak akan mati selama kemiskinan masih terjadi di negeri ini. Topik ini adalah topik yang—walaupun sangat luas dan klise—sangatlah perlu untuk sering dibahas secara berkala, termasuk dalam bidang film. Penikmat film, terutama rakyat Indonesia sendiri, harus diajak melihat, merenung, dan berpikir mengenai kondisi dan permasalahan-permasalahan terkini yang ada di dalam negeri. (*)

Palemraya, 2020

Catatan kaki:

  1. Permata Adinda, “Kelas Menengah Itu Apa, Sih?”, https://asumsi.co/post/siapa-yang-dimaksud-kelas-menengah-di-indonesia, (diakses pada 7 Desember 2020, pukul 11.57 WIB).
  2.  “Bintulu Poised For More Economic Growth Soon”, https://www.theborneopost.com/2011/11/07/bintulu-poised-for-more-economic-growth-soon/, (diakses pada 9 Desember 2020, pukul 12.01 WIB).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s