Aku Kehilangan Tulang Rusukku, Apa Kamu Melihatnya?

Cerpen Hadiwinata

Kamu jatuh. Suatu sosok mendorongmu dari atas langit, dan membuatmu terhempas di suatu ladang. Kamu bertanya, di mana aku? Di mana tulang rusukku? Kamu lalu berjalan, menyusuri ruang hitam, dan bertemu sebuah rumah. Di dalamnya terdapat dua manusia yang menganggapmu anggota keluarga. Kamu tinggal bersama mereka, bertahun-tahun hingga berwindu-windu. Di sana, ada seorang perempuan lembut yang kamu panggil mama, juga seorang lelaki penuh kumis dan berjanggut tebal yang selalu kamu sebut papa. Kamu punya pekerjaan di tengah kota. Di saban hari, kamu selalu pergi ke sana, dan bekerja sebagai officer yang tak mempunyai semangat. Pekerjaannya membosankan, keluhmu beribu kali—karena pekerjaan itu hanyalah menatapi layar komputer, menekani berbagai tombol di keyboard, dan membuat macam-macam laporan. Sebab itulah matamu menjadi empat seperti Detektif Conan, badanmu mengembang ketika sedang duduk dan nyemil di meja kerja, dan pelan-pelan menjadi melankolis karena tak seorang pun sudi melihatmu. Kamu juga sering menangis—di malam hari—karena tak kunjung menemukan tulang rusukmu. Kamu mengembara dari satu kota ke kota lain, ke negeri lain, pergi ke tempat-tempat ramai yang kerap dikunjungi para manusia, menyinggahi taman-taman, danau tepi jalan, bahkan masuk ke dalam hutan. Tetapi tulang rusuk yang kamu cari tidak juga kamu temukan! Dan kamu menangis sebagai bocah. Dan kamu kecewa begitu rupa. Kamu melalui tahun demi tahun dengan derita dan rasa sakit yang menikam dadamu. Air matamu telah mengering. Wajahmu pun menjadi tua dan membatu. Dan, kondisi itu, semakin bertambah parah ketika mama dan papamu disedot ke langit, satu per satu. Kamu menjelma seorang yang lepas kendali, seperti mobil kehilangan kemudi. Kamu mencari kehangatan ke banyak tempat dan perkumpulan. Kamu pergi ke ratusan kedai kopi untuk menakar nasib. Kamu bergabung dengan komunitas pipe, dan menyembunyikan miliaran kesedihan di sana. Di malam hari, sepulang berkumpul dengan komunitas Pipe Pelipur Lara, kamu sering mengamati jalanan dengan sangat lekat. Kamu bahkan kerap kali mengendarai mobilmu begitu pelan, dan menyusuri jalanan dengan penuh hikmat. Kamu memandangi tepian jalan, bangku taman, halte-halte, dan bagian depan pertokoan, seraya berharap dalam hati kamu akan melihat tulang rusukmu, kemudian menepi, menyuruhnya masuk ke dalam mobil, dan duduk di sampingmu. Akan tetapi, doa itu tidak pernah menjadi kenyataan. Seolah apa yang kamu harapkan adalah hal paling mustahil di dunia ini. Suatu petang, pada musim gugur yang menguningkan dan merontokkan daun-daun, kamu berjumpa denganku. Aku sedang duduk dan makan roti. Aku juga sedang malas bicara dan ingin sendiri. Tetapi kamu (yang sejatinya ganteng, tampak menyedihkan seperti seorang yang baru ditinggal mati kekasihnya) turun dari mobilmu, dan bertanya.  “Aku kehilangan tulang rusukku, apa kamu melihatnya?” “Berhentilah mengembara dan membuang waktu, Tuan. Tulang rusukmu tidak hilang!” Kamu terdiam. Angin berembus, membawa aroma asin dari laut. “Siapa yang mengatakan kepadamu jika tulang rusukmu telah hilang? Kamu bukan Adam. Tulang rusukmu penuh. Silakan X-rays kalau tidak percaya, jumlahnya genap 12 pasang!” Kamu tampak tersentak mendengar pernyataanku itu. Kamu terduduk di sebelahku, dan menangis seperti bayi. Tetapi kamu tidak lagi memiliki air mata. Dan kenyataan itu semakin membuatmu bertambah sedih. “Berhentilah menangis, Tuan. Maafkan perkataanku. Tetapi, kamu memang tidak perlu mencari tulang rusukmu yang tak hilang itu. Percayalah, itu perbuatan yang sia-sia. Kamu bisa menentukan tulang rusukmu sendiri yang kamu pilih sebagai teman hidup!” Kamu membawaku ke mobil, dan menyuruhku duduk di sampingmu petang itu. Kamu mengendarai mobil dengan diam dan tenang. Tetapi, entah mengapa, pelan-pelan kamu menjadi riang. Bahkan semakin menjadi-jadi ketika lagu First Love oleh Utada Hikaru mengalun dengan jelas dari radio. Kamu meraih tanganku. Kamu menggenggamnya erat, hangat, dan sedikit mengelusnya. Kamu bahkan mencium tanganku saat itu, dan mengatakan: “Pada akhirnya, aku menemukan tulang rusukku!”. Aku tidak menjawab, dan memilih untuk senyap. Mungkin kamu tidak tahu, tetapi aku malas mendengar kata “tulang rusuk” itu, suatu kata yang berulangkali kamu ucapkan. Hidup ini indah, kamu hanya perlu mengatur pola pikirmu dan menerima segala sesuatunya. Kamu semakin bahagia, dari detik ke detik. Kamu mulai bernyanyi lagu-lagu cinta, dan menatapku begitu rupa. Petang itu, kamu berkendara jauh, dan membawaku pulang ke surga. (*)

Palemraya, 2020

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s