Barangkali Kamu Mengira Seorang Yang Datang Dari Negeri Terjajah Adalah Keledai

Cerita Hadiwinata

Aku, mungkin, memang bodoh, J—persis seperti penilaian yang tampak benar dari sorot matamu. Aku datang dari seberang, dari negeri yang terjajah selama ratusan tahun. Aku bekerja menggunakan tenaga, alih-alih kepala sepertimu dan orang-orang sebangsamu. Tapi, aku bukanlah seekor keledai! Setidaknya untukmu yang terlalu buruk untuk menjadi seorang pendusta. Aku, mungkin, memang keras kepala, J. Dan (bisa kupastikan) aku akan terus mengingat bagian ini sebagai bab paling hitam dalam sejarah perjalanan cinta kita. Kau mungkin akan berpura-pura lupa, atau bahkan memang sengaja melupakannya sama sekali—tetapi berdoalah semoga aku tidak menjadi seorang yang pendendam dan menyimpan bara kebencian.

Pagi itu, sekitar pukul 5.47 am, J memarkir mobilnya tepat di depan 7eleven yang tidak kenal tutup. Aku keluar untuk membeli dua minuman kaleng, beberapa lembar roti, sausage panggang, dan tanpa mie instan. Aku, meskipun lahir sekaligus besar di negeri yang teramat menjunjung tinggi makanan cepat saji berbahan dasar tepung, dan berbentuk seperti rambut keriting tapi tebal itu, mencoba untuk berusaha sekuat tenaga menghidarinya. Padahal, di waktu pagi, menyeruput kuah mie instan yang hangat + minuman kaleng + sihir suara Lana Del Rey adalah perpaduan yang sempurna. Aku sebetulnya bisa saja mengambil dua pack mie instan dalam cup, rasa kari atau soto, dan memasaknya dengan cara direbus dengan air panas yang telah disediakan oleh pihak 7eleven. Namun, aku memilih untuk melewatinya. Aku harus mengurangi mengonsumsi mie instan agar para penyakit tidak segera datang dan menginap lalu memutuskan untuk tinggal di dalam tubuhku yang satu (aku hanya punya kesehatan dan raga ini, tanpa kedua itu aku akan menjadi seorang yang bangkrut sama sekali). Tetapi aku juga tidak makan burger, aku kurang menyukainya. Hanya sandwich isi coklat atau apa saja. Asalkan jangan burger!

Ketika aku kembali ke mobil, J sudah terlelap lagi. Ia memang dan selalu begitu. Ia seorang yang sangat suka tidur. Aku membangunkannya untuk breakfast, tapi ia tidak mau bangun. Aku lalu memaksanya membuka sandi selulernya agar aku bisa menghidupkan hotspot. Kalau kita bisa menggunakan internet secara gratis, untuk apa membayar, kan? J kemudian memasukkan sandi dan memberikan selulernya kepadaku.

Kau tahu apa yang kulakukan? Yup, benar sekali. Hal yang pertama kubuka bukanlah menu setting dan menghidupkan personal hotspot, melainkan galeri foto dan aplikasi Whatsapp.

Kutanya padamu, mengapa kita suka menyakiti hati sendiri? Maksudku, mengapa kita terkadang berlagak sok kuat dan hebat, padahal, sejatinya, kita hanyalah sekuntum kembang putri malu yang ketika disentuh langsung kuncup seperti mati suri?

Ia, seorang yang kita anggap kekasih, seringkali sudah menyembunyikan pisau agar hati kita tak terluka kemudian berdarah. Lalu mengapa kita mengambil pisau itu dan menghunjamkannya ke dada sendiri? KARENA KEBENARAN HARUS DITEGAKKAN DAN AKU TIDAK MENTOLERIR SAMA SEKALI SUATU KEBOHONGAN, jawabmu, pelan, seperti ragu-ragu. Maka kemudian terimalah luka itu. Maka kemudian cabut sendirilah mata pisau itu. Seperti aku yang tiba-tiba senyap seperti si bisu yang tidak bisa bicara sejak lahir.

“Kenapa?” Tanya J, 30 menit kemudian, selepas aku mengetahui semua dusta yang ia sembunyikan.

Aku menggeleng.

Mukaku merah, hawa panas seketika naik ke kepalaku dan menggelegak di ubun-ubun. Tetapi aku langsung membuang muka. Pandangan kuarahkan ke jendela, ke arah luar, pada anjing-anjing yang berjingkat pergi karena terusir dari depan pintu suatu toko.

“Aku kenal kamu, kamu tidak seperti ini. Sebaiknya katakanlah!”

Aku tetap diam.

“Hey, come on! Ayolah!”

“Masih mau pergi atau tidak?”

Aku mengangguk.

Semalam, seperti biasa, J datang menemuiku. Ia seperti tidak bisa melewatkan hari tanpa berjumpa denganku. Kami makan malam, keliling kota, membeli beberapa durian, dan pulang. Tetapi karena kawan satu bilikku sedang pergi karena esok harinya cuti, maka J kuajak bermalam di sana—tanpa sepengetahuan kawanku itu, tentu saja.

J ingin membawaku ke satu countryside yang terdapat di negeri ini. Kami seharusnya berangkat kemarin petang, hanya saja karena hari sudah hampir berakhir dan kami sama-sama letih, jadwal kami undur pada keesokan harinya.

Tiga hari sebelum agenda ini, sejatinya, hubungan kami sudah rusak dan tamat. Begitulah aku, seperti sudah menjadi garisan dari Tuhan, jika aku hanya bisa berhubungan sebentar saja dengan seseorang—paling lama satu pekan. Tetapi, ketika “perang” antara aku dan J meletus, waktu perkenalan kami baru berlangsung selama empat hari saja, karena itulah aku menyebutnya “waktu perkenalan” ketimbang “hubungan”.

Aku tinggal di tepian kota, sama seperti J. Jarak antara tempat tinggalku dengannya sekitar 20 menit. Namun, aku tidak bekerja di city center—sebab itulah aku tinggal di distrik Y ini. Sementara J? Ia, jelas, bekerja dan memiliki office di tengah kota, di pusat Bandaraya sana. Lalu mengapa ia tinggal di sini, alih-alih mencari bilik sewa atau apartment yang dekat dengan tempat kerjanya?

Saat itu, selepas makan malam, J menghentikan mobilnya di pinggir jalan yang menghadap langsung ke perbukitan yang membentang di sepanjang Semenanjung ini. Kami mengobrol, menjangkau satu per satu persoalan kehidupan masing-masing guna mengenal lebih jauh. Tapi, aku adalah orang yang terlampau kritis untuk J yang teramat amatir dalam mengarang cerita rekaan.

J mengatakan kalau ia memiliki adik angkat yang begitu ia sayangi. Ia mengenal anak itu sejak lama, dan mereka kerap menghabiskan waktu bersama. Seperti traveling, merayakan hari ulang tahun, sarapan dan makan siang, pulang-pergi kerja, dan lain sebagainya. Oh iya, kau perlu tahu jika mereka sekantor! Oh, Tuhanku, berilah hambamu kesabaran dan ketenangan jiwa! Mereka bekerja di kantor yang sama.

Lalu bagaimana mungkin aku bisa menerima J, seorang yang kepadanya telah kuberikan hati ini, seluruh jiwa ini?

“He is more than enough for me!” ujar J menjelaskan. “But he doesn’t accept me as partner, except borther!”

“Trust me, I won’t find anybody else if he likes me!”

Cukup, J, dalam hatiku. Aku memintanya untuk mengantarku pulang malam itu. Keesokan harinya, sebagaimana biasa, aku kerja. Tetapi fokusku telah hilang sama sekali. Aku memikirkan dirinya dan anak itu sepanjang waktu. Hari itu, ragaku memang berada di hotel dan tengah bekerja, tetapi pikiranku terbang entah ke mana. Melayang-layang seperti burung terbang. Membuatku harus menelan bentakan dari chef Z, bosku yang pendek sekaligus gempal itu.

Bagaimana tidak, ada banyak sekali tamu memintaku untuk membuatkan mereka Sunny Side Up. Mereka menunggu, dan membuat antrian seperti ekor biawak. Namun, karena fokusku hilang dimakan rayap perasaan, aku malah membuat omelet dan scrambled egg begitu banyak. Betapa dungu! Para tamu marah, dan aku diusir oleh bosku. Aku kemudian disuruh mengambil setiap piring kotor yang ada di meja tamu, membersihkannya, dan mengucap GOOD MORNING AND HAVE A NICE DAY. Tetapi aku justru menjatuhkan setumpuk piring, beberapa bowl, beserta cawan-cawannya. Hari itu, semua mata tertuju padaku. Namun, jelas, bukan karena aku menawan, melainkan persis seekor keledai yang ceroboh.

“You can work, aren’t you?

Kemudian aku ditendang ke dapur dan disuruh mencuci 1000 piring.

Sepulang kerja, aku mengirim pesan kepada J bahwa aku tidak lagi bisa berhubungan dengannya.

“Silakan kau”, kataku, “pergi dan bersenang-senang dengan adik angkatmu itu. If you’re giving him all of your money and time, I’m not gonna sit here wasting mine on you!1

Lalu kublokir nomor J—ia tidak akan bisa lagi menghubungiku, dan oleh karena itu aku tidak akan menerima pesan-pesannya lagi pula, sehingga aku tidak perlu merasa bersalah dan terusik karena tak membalasnya.

Di sore hari, aku mandi dan bersiap menuju mosque. Aku berjalan kaki sejauh setengah kilometer, dan berjumpa mosque yang megah nan menentramkan.

“O, God almighty, selalu lindungi aku dari setan, jin, manusia, nasib buruk, rasa sakit, dan kecewa!”

Entah, apakah Tuhanku yang seperti sendok, maksudku satu, bukan tiga seperti garpu, mendengarkan doaku malam itu. Yang jelas, malam itu, aku pulang bersama kesepian dan hati yang melompong seperti baru saja dibom sekutu. Kosong sekali, ringan seperti tidak terdapat apa-apa di sana. Tetapi, sakit. Ada rasa perih yang kurasakan.

Aku berjalan sambil menendang kehampaan.

“Kamu di mana?”

Sebuah pesan masuk. Itu J, aku tahu itu, meski ia menggunakan sim-card yang lain. Aku mau menangis! Aku tidak tahu harus menjawab atau mengabaikannya sama sekali.

“Aku di jalan.” Tulisku. “Tapi aku tak tahu di jalan mana. Aku tersesat.”

Kukatakan demikian agar ia khawatir. Tetapi aku tak tahu apakah ia peduli atau sangat peduli kepadaku? Ia tidak menulis sesuatu yang bisa kujadikan bahan analisa dan bukti kepadamu. Tapi ia membalas seperti ini: kirim lokasimu. Dan sepuluh menit kemudian ia menemukanku tengah terduduk sedih di bawah pokok besar di tepi jalan raya. Menyedihkan sekali! Persis seperti seorang gila yang ditinggal kekasihnya menikah, ya? Tidak, aku justru lebih mirip seorang homeless dan pencari derma.

J membawaku ke mobilnya, tetapi aku sudah kehabisan kata-kata. J meminta maaf dan meraih tangan kananku. Ia memohon, dan menjelaskan perihal hubungan ia dan anak itu berkali-kali.

Entahlah, J, lirihku dalam hati. Tetapi aku masih saja menerimanya, dan membatalkan pemblokiran nomornya.

Kemudian, pagi itu, untuk kali petama, semua dusta J terbongkar. Aku membaca hampir setiap obrolan antara ia dan adik angkatnya.

“Kau tahu, J,” ucapku dalam hati, “kau adalah pendusta yang gagal!”

J berkata kepadaku bahwa tiga hari lagi, selepas agenda kami ke countryside, ia harus terbang ke kota Kinabalu karena urusan kerja. Ia berkata jika office mereka di sana baru saja membeli suatu alat baru, dan J ditunjuk sebagai tenaga pengajar. Tugas itu akan berlangsung selama sepekan, dan selama itu pulalah aku tidak akan berjumpa dengannya. J juga menambahkan kalau di sana line internet tidaklah bagus, maka ia mungkin kesulitan untuk menerima dan mengirim pesan.

Kau tahu, bodohnya, ketika pertama kali J mengatakan informasi itu, aku menerima semuanya secara mentah-mentah. Aku menganggap ia innocent sama sekali! Padahal, kenyataannya, semua itu hanyalah dusta menjijikkan. Mereka hendak berlibur, dan mereka memilih tempat yang sangat jauh dan romantis! Oh, God almighty, selamatkan mata dan pikiran hambamu!

J telah memesan tiket pesawat pulang-pergi, Kinabalu—kota X ini, beberapa kamar hotel untuk satu minggu di sejumlah tempat berbeda (semuanya berbintang empat dengan tarif fantastis), membeli paket tur ke Mamutik Island, Manukan Island, dan Sulug Island, menyewa mobil untuk pergi ke Gunung Kinabalu untuk hiking, mengunjungi danau-danaunya yang seperti di surga, pedesaan dengan udara yang sangat bersih , juga perkebunan strawberry, dan lain sebagainya yang menakjubkan sekaligus membuatku marah dan begitu cemburu. Oh iya, aku lupa, J bahkan khusus membeli kamera DSLR untuk trip mereka yang kesekian ini.

“Boleh aku ikut?” godaku, di pagi hari, ketika kami tengah berjemur di muka swimming pool suatu resort yang kami sewa.

“Ini lama, kamu kan harus kerja?”

“Aku bisa mengambil cuti?”

“Tidak perlu. Ini urusan kantor, selain itu tiketnya mahal sekali!”

“Bukan untuk liburan?”

“Sama sekali bukan!”

“Yakin?”

“Tentu saja!”

Liburan akhir pekanku terasa sangat hambar—melebihi kaldu sup yang lupa dibubuhi garam. Seharusnya liburan ini menjadi salah satu yang berkesan. Resortnya cantik, bersih, dan mewah. Fasilitasnya juga lengkap. Aku bahkan bertemu satu-dua baby crabs yang kutangkap dengan tangan telanjangku, di bibir pantai itu yang menghadap langsung ke Laut Cina Selatan.

“Hey, baby crab, apa kamu percaya jika cinta sejati itu ada?”

“Apakah cinta sejati itu hanya dimiliki oleh seorang yang menunggangi kuda dan mempunyai pedang?”

Kalau benar, aku belum bertemu seorang yang demikian. Aku ada satu, tapi ia tidak tidak menunggang kuda, juga tidak punya pedang. Tapi lidahnya sungguh tajam, pandai berkelit, dan menganggapku sebodoh keledai. Padahal, ia hanya tidak tahu jika aku sudah mengetahui semuanya, dan memilih bungkam karena tak tahu harus melakukan apa lagi.

“Kau ini siapa berani-beraninya mempermainkan perasaanku?”

“Katamu ia hanya sebatas adik angkat! Lalu mengapa kamu lebih memilih bersenang-senang dengannya ketimbang aku yang telah menerimamu?”

“Lalu kau anggap apa aku?”

Itu adalah segelintir bentuk dari kesedihanku yang terduduk murung di dalam hatiku. Ia duduk memeluk lutut dan menangis di sana—seorang diri, tanpa seorang pun mengawani untuk meminjamkan pundak maupun memberikan selembar tissue.

Kau tahu, di hari ketika J pergi ke Sabah bersama anak manusia menyebalkan itu, aku merasa sangat hancur. Hatiku pecah menjadi butiran debu yang diterbangkan angin ke arah laut. Selain itu, aku juga resah, seperti cacing yang diletakkan di atas aspal pada pukul 12 tengah hari oleh kumpulan bocah iseng.

Aku menelpon J, bahkan sejak hari pertama. Tetapi telepon itu tidak terhubung. Aku juga mengirim beberapa pesan, dan tiada satu pesan pun yang mendapatkan balasan. J menghilang, dan aku merasa seperti ada bagian dari diriku yang tercerabut.

“Bullshit! Gak usah percaya orang macam itu!” maki seorang kawan yang baru kukenal.

Kuberi dia nama O. Mungkin, ada baiknya kamu mengenalnya begitu saja.

O, sama sepertiku, J, dan adik angkatnya itu: seorang melayu. Tapi ras, sebagaimana kau tahu, tidak menjamin orang memiliki pola pikir yang sama—bahkan saudara satu darah sekalipun.

Suatu malam, kutaksir sekitar pukul 9 pm, O menjemputku, dan kami pergi ke satu taman rindang dengan danau yang besar. Kami berjalan-jalan dan duduk di sana, di jembatan kecil yang terletak tepat di atas danau itu.

Emosiku kala itu—barangkali tak tercatat di termometer. Aku begitu gelisah, dan napasku tidak teratur. O kemudian menyuruhku untuk relax dan mengambil napas panjang, melepaskannya pelan-pelan seraya mendengarkan keheningan malam dan debur air yang mengalir.

Malam itu, di taman tersebut, udara kurasakan begitu bersih dan nikmat. Barangkali sebab terdapat banyak sekali pepohonan, dan tekanan udara telah berkurang.

“Kau sibukkan saja dirimu dengan pekerjaanmu, tidak perlu kau harapkan dia!” ujar O. “Sepertiku: aku single dan punya satu anak. Tetapi aku bahagia, setiap harinya aku sibuk bekerja dan pulang di waktu malam.”

“Lalu bagaimana kau mengatasi ‘malam sepi’?”

“Tuhan memberi kita dua tangan, tetapi satu saja kemaluan!”

“Di mana masalahnya?”

Tetapi aku masih juga belum bisa melupakan J, bahkan selepas berjumpa dengan seorang melayu yang lain bernama A (ia sedikit gemuk). Ia mengajakku ke sebuah mall, dan kami melihat orang-orang bermain ice-skating.

Tetapi aku juga masih belum bisa melupakan J, bahkan selepas berjumpa dengan seorang Chinese yang, mungkin, kita namai saja: L.

L seorang yang pasif, tidak banyak bicara, tapi sedikit mesum. Kami pergi ke suatu pantai, dan L mengatakan jika ia sangat senang berjumpa denganku. Ia bahkan berseloroh apabila ia telah mengenalku sebelum pergi ke Seoul, ia akan memutuskan untuk tidak pergi dan memilih untuk traveling singkat di dalam negeri, atau berduaan denganku saja. Katanya, selama di Seoul, ia tidak bertemu apapun kecuali kesunyian. Sementara saat ini, ketika bersamaku, ia justru berjumpa suatu kehangatan. Padahal kami hanya pergi ke sebuah pantai yang jaraknya tidak terlalu jauh: hanya perlu melintasi sebuah high way yang memakan waktu 3600 second. Bagaimana mungkin?

Nah, J, andai kau tahu cerita ini, andai kau membaca cerita pendek yang kutulis dengan jujur ini. Kau telah menyianyiakan sosok yang digemari banyak orang, yang memiliki bau badan yang khas dan memabukkan, yang bisa membuat nyaman, lantas bagaimana bisa kau meninggalkanku dan pergi berlibur selama sepekan ke sebuah kota yang jauh, di pulau yang berbeda, bersama orang lain?

“Hello?” ujar suara itu.

Itu J, ia menelponku di suatu petang.

“Kenapa? Masih ingat aku?”

“Aku merindukanmu …”

J menelpon ketika ia tengah berada di suatu pulau kecil di tengah Laut Cina Selatan. Barangkali Manukan Island?

“Bagaimana bisa kau menghubungiku? Bukankah tiada line di sana?”

J juga menelponku di suatu malam. Ia menangis, dan berkata: I wish you were here2.

Kukatakan padanya: “Anak itu lebih baik dariku, maka bersenang-senanglah dan selamat malam!” telepon kumatikan, dan aku turut menangis sampai terlelap, sampai airmata mengering di kedua pipiku.

Seminggu selepas hari keberangkatan J ke pulau Borneo itu, ia pulang. J mengirimiku pesan dan memintaku bersiap-siap. “Kenapa dan ada apa?”

Petang itu, sepulang dari sana, bahkan sebelum sempat mandi dan membuka koper, J langsung datang dan membawaku pergi. Itu semacam bentuk permohonan maaf darinya.

J membawakanku selembar baju, beberapa camilan, souvenir-souvenir cantik, juga ukiran-ukiran kayu. Mungkinkah aku menerimanya? Menjadi kerbau yang ditusuk hidungnya?

“Aku tidak mau, J,” tolakku. “aku tidak bisa menerimanya.”

“Aku minta maaf kepadamu. Tolonglah!”

“Aku tidak bisa berbagi, sebab itulah aku juga tidak suka mengambil punya orang lain.”

“Aku akan meninggalkannya! Aku janji!”

Aku, mungkin, memang bodoh, J—persis seperti penilaian yang tampak benar dari sorot matamu. Aku datang dari seberang, dari negeri yang terjajah selama ratusan tahun. Aku bekerja menggunakan tenaga, alih-alih kepala sepertimu dan orang-orang sebangsamu. Tapi, aku bukanlah seekor keledai! Kuulangi, aku bukan KELEDAI! Setidaknya untukmu yang terlalu buruk untuk menjadi seorang pendusta. Aku, mungkin, memang keras kepala, J. Dan (bisa kupastikan) aku akan terus mengingat bagian ini sebagai bab paling hitam dalam sejarah perjalanan cinta kita. Kau mungkin akan berpura-pura lupa, atau bahkan memang sengaja melupakannya sama sekali—tetapi berdoalah semoga aku tidak menjadi seorang yang pendendam dan menyimpan bara kebencian.

(*)

Palemraya, 2020

1. Dikutip dari lagu Ciao Adios oleh Anne Marie.

2. Dikutip dari lagu Wish You Were Here oleh Avril Lavigne.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s