Tokoh Elio Dalam Kisah Kita

Cerita Hadiwinata

Malam itu, (selepas menghabiskan 33 jam bersama) di tepi jalan yang berseberangan langsung dengan shoplot yang kutinggali, J terdiam sementara aku menangis.

Entah mengapa, sesekali, bila kupikir-kupikir, aku terkadang berpikiran sempit dan tidak melihat realita. Seperti malam itu, aku merasa jika pertemuan kami pada dua hari tersebut adalah yang pertama sekaligus yang terakhir. Padahal, sejatinya, jika ia memang 100 % menyukaiku maka ia akan senantiasa datang kepadaku, bukan? Seperti yang pernah kukisahkan kepadamu: J orang tempatan, sementara aku masih juga akan tinggal di bilik sewa itu. Lalu mengapa aku berpikir demikian dan menjadi sedih begitu rupa? Aneh sekali. Tapi, sejauh yang bisa kuingat, saat itu aku berpikir begitu karena aku:

1. Pendatang.

Aku datang dari jauh, dan baru tinggal selama dua bulan saja di kota asing bernama X ini.

2. Tidak mengenalnya.

Aku tidak mengetahui apapun terkait identitasnya, kecuali nama dan usianya. Di mana ia tinggal? Apakah ia jujur ketika ia berkata bahwa ia masih lajang? Apa pekerjaannya? Siapa orangtuanya? Di kota apa ia dilahirkan?

J masih saja diam. Ia menyandarkan kepala dan punggungnya lekat-lekat pada sandaran kursi, seolah seorang yang sedang letih sekali.

“Pada kisah kita, akulah Elio itu.” Selorohku pelan, dan entah mengapa airmataku mulai berguguran.

Kamu tahu Elio? Bukan, Elio bukanlah seorang pahlawan. Ia juga bukan mantan kekasihku atau pun kawanku. Betul tidak kenal? Bahkan tidak pernah mendengar nama indahnya? J juga tidak.

Elio adalah seorang karakter dalam novel Call Me By Your Name karangan Andre Aciman. Ia adalah seorang remaja lelaki manis—berdarah Italy—yang berjumpa dan pelan-pelan jatuh cinta dan menjalin sebuah hubungan dengan seorang amerika. Tetapi, di akhir kisah, mereka harus berpisah. Orang Amerika itu harus pulang ke negaranya dan meninggalkan Elio seorang diri bersama kesepian dan perasaan cintanya. Jelas, Elio sangat terpukul karena kenyataan itu. Ia seperti tidak bisa menerimanya.

Persis sepertiku. Aku juga sangat-teramat tidak rela untuk ditinggalkan J—bahkan untuk satu second pun. Aku ingin senantiasa bersamanya. Aku ingin selalu bersama J dalam 24/7.

“Hey, no! Please, don’t cry, it’s not the same!”

“I’m not going anywhere. I’m not leaving you. I’m not leaving you.”

“I want to live together with you.”

Itu adalah permintaan yang naïf, bodoh, dan kekanakan sekali. Tinggal bersama, bila kita perjelas, ialah sebuah kehidupan yang melibatkan lebih dari satu orang dan masing-masing harus bisa saling menyesuaikan. Baik itu dari segi hati (penerimaan) maupun kehidupan luar seperti keluarga, pertemanan, dan pekerjaan. Tetapi itu adalah permintaanku. Maka kau boleh menghakimiku sebagai anak muda yang naïf, bodoh, dan kekanakan.

Saat itu, yang kutahu, kami berdua sama-sama lajang, berasal dari kota lain, dan saling menyukai. Namun, sebagaimana bocah yang dilanda cinta, aku sama sekali tidak memikirkan persoalan pekerjaan. Aku bekerja di sebuah hotel di tepian kota, sementara J bekerja sebagai officer di pusat kota. Aku masuk kerja pukul lima pagi, dan ia bekerja pada waktu office hour. Selain itu, aku juga belum menimbang terkait pandangan bosku, kawan satu bilikku, dan kawan-kawan kerjaku jika aku pindah tempat tinggal dan hidup bersama orang lain yang kusebut kekasih. Itu baru beberapa hal, belum lagi mengenai kehidupannya, pertemanannya, pekerjaannya. Oh God, ini memang bukanlah persoalan yang sederhana.

Aku dan J lalu “berdiskusi” panjang perihal living together ini, pilihan kata yang baik untuk tak menyebutnya sebuah pertengkaran kecil tentang cinta, masa depan, dan kebahagiaan. Tapi kebahagiaan siapa?

Malam itu, J lebih banyak diam. Selain karena ia belum bisa memutuskan apakah ia sanggup dan siap mewujudkan keinginan naifku itu, ia juga tengah sakit kepala. Asam lambungnya kambuh, dan ia berulangkali sendawa. Membuatku sangat khawatir soal kesehatannya.

Namun begitu, (ini adalah sifat J yang paling aku suka) ia adalah seorang yang perhatian dan seolah siap menuruti segala keinginan orang yang dikasihinya. J meraih selulernya, dan mengetik: Apartmen For Rent.

Ada banyak sekali pilihan di sana. Harga-harganya terbilang mahal dan fantastis. Tapi, bisa kuakui, kotak-kotak kamar itu sangat mewah dan nyaman untuk ditinggali. Aku sangat ingin tinggal di sana—seperti Lovely dan beberapa rekan kerjaku yang lain yang berasal dari Philippines itu.

“Aku ada obat masuk angin, J,” selorohku. “kau harus meminumnya. Ini obat yang bagus dan terkenal di negeriku.”

Aku keluar mobil, membawa beberapa pakaian kotor dan satu-dua makanan yang kami beli petang itu, dan bersicepat menuju bilikku. Aku sudah kenyang, tentu saja makanan tersebut kuberikan pada T kawan satu bilikku.

Saat itu, entah mengapa, terlepas dari faktor usia, fisik, ras, warna kulit, agama, atau apapun itu, aku mencintainya. Aku telah mencintai J selepas menghabiskan 33 jam bersama. Ia ternyata seorang yang sangat baik dan perhatian. Padahal, di saat-saat pertama perjumpaan kami, ia tidak tampak begitu. Ia justru terkesan dingin dan tak bersahabat.

Hari itu, setelah bersepakat untuk berjumpa, J datang kepadaku dan memarkir mobilnya tepat di atas bidang tanah ini—di tepi jalan yang berjajar barisan pokok Palem dan berseberangan langsung dengan bilik sewaku.

 Ia menunggu dalam mobil, dan cuaca kala itu tengah teduh-berangin, menanggalkan daun-daun tua dan hati siapa saja yang rapuh untuk diterbangkan dan dihempaskan jauh. Barangkali ke laut?

Ketika J mengirim pesan bahwa ia telah tiba, aku turun dengan santainya. Aku mengenakan polo shirt hitam, celana pendek selutut (aku tak tahu mengapa saat itu aku sedang suka-sukanya mengenakan celana pendek ketimbang celana panjang. Seolah aku adalah seorang yang tengah ingin bebas sebebas-bebasnya melebihi burung?), dan sepasang sandal. Aku tidak membawa tas tangan, apalagi ransel. Di sakuku, hanya ada ponsel, dompet, dan passport. Aku sama sekali tidak mengira jika perjumpaan kami yang kutebak hanyalah sebatas secangkir kopi dan sepotong cake akan memanjang seperti ekor ular.

Dalam urusan percintaan, aku bukanlah seorang yang (barangkali bisa kusebut) “gampangan”. Tentu saja aku tidaklah 100 % sempurna, bahkan separuh dari nilai itu pun, mungkin, tidak! Tetapi, entah bagaimana bisa, aku meletakkan level di atas rata-rata.

Aku tidak suka CINTA SATU MALAM, apalagi cinta satu jam, tiga puluh menit, atau kurang dari itu. Aku menginginkan seorang yang tulus, serius, perhatian, memiliki etika yang bagus, dan penyabar. Namun aku tidak tahu apakah seorang yang demikian itu ada dan sudah lahir? Apakah ia mau dan bersedia menjalin hubungan asmara denganku yang 50 % sempurna pun tidak. Entahlah. Tetapi satu-dua keresahan seperti ini aku lontarkan secara terang-terangan kepada J, dan ia sepertinya bisa menerimanya.

Mula-mulanya J dan aku hanya mengobrol dan berbasa-basi (kami menggunakan bahasa orang kulit putih, entah mengapa. Tetapi memang bahasa itulah yang kami gunakan di awal perkenalan, sebelum memutuskan untuk berjumpa) tentang hal remeh-temeh dan ringan seperti pada umumnya—suatu formalitas menyebalkan yang harus kita lalui guna membangun kemistri yang baik. Terlihat kuno sekali, ya, di zaman yang hampir setiap orang tidak lagi memiliki pakaian kemaluan?

Kemudian J mengeluhkan jika ia tidak suka kepada orang yang suka bermanis-manis, mudah mengatakan cinta, memanggil dirinya dengan sebutan romantis seperti: my love, yang sejatinya hanyalah menginginkan materi dan uang.

“Plastik sangat!” celetuknya.

Hey, man, no body wants to date someone as old as their parents. Trust me, nothing! Kesalku dalam hati. Kalau pun ada anak muda yang mau, itu hampir sudah bisa dipastikan jika mereka mengincar uangmu. Kau paham itu? Kuulangi sekali lagi: UANGMU. Jadi berhentilah mengeluh dan mengharapkan anak muda yang tidak materialistis. Yang seperti itu hanya ada di surga, sementara kita masih hidup di dunia yang culas dan setiap saat mengancam.

Akan tetapi, sayangnya, aku tak berani mengatakan itu semua. Aku belum mau merusak hubunganku dengannya. Kami baru berjumpa, dan aku tidak ingin terlalu cepat menilai seseorang.

J membawa mobilnya menembus gerimis dan angin yang menerbangkan keping-keping kesunyian. Ia mengajakku ke sebuah mall paling besar di kota X ini. Mall itu baru buka, memiliki belasan lantai yang menjual berbagai barang mewah yang sudah pasti mahal, dan sangat cantik. Ramai sekali orang berkunjung ke sana. Tempat parkir bawah tanah yang panjang x lebar pun hampir semuanya sudah terisi. Beberapa orang yang baru datang, seperti kami, terpaksa berpusing-pusing dan naik ke lantai atas demi mendapatkan lapak kosong.

J mengajakku ngopi di sebuah kafe mahal, menonton film animasi Hollywood (menonton film adalah salah satu kegemarannya), makan siang di suatu restoran Arab, membeli selembar polo shirt putih yang sama (aku memilih ukuran S, sementara ia mengambil ukuran L), dan di saat petang, ia membawaku ke pinggiran kota. Area itu berarsitektur Eropa dan berbatasan langsung dengan laut. Indah sekali, seolah kita sedang tidak berada di negeri Timur.

Kami singgah ke sebuah hotel di sana, bukan untuk menginap, melainkan untuk makan malam dan menikmati suasana indahnya. Saat itu, ketika pelayan mengantarkan appetizer, dua piring chicken-rice, dan dua gelas teh mint, matahari perlahan turun dalam momen indah yang menakjubkan. Pendar cahaya Jingganya memukau mata. Matahari itu seolah tenggelam di tengah laut, dan yatch-yatch mewah—yang tersandar dan terikat rapi pada temali—tak jauh dari kami terpercik sinar-sinar itu—seolah termandikan, dan indah petang itu semakin bertambah sempurna saja.

Entahlah, bagaimana bisa, kurasakan jagat raya seperti setuju dan bekerja sama untuk mendukung hubungan kami.

“Jika kau mau, kita bisa menginap di hotel seperti ini.”

“M—maksudmu malam ini?” jawabku tergagap.

“Tentu saja!”

“Tapi aku harus menelpon bosku terlebih dahulu.”

“Aku sudah berjanji kepadanya untuk bekerja esok hari.”

J memutar balik mobilnya ke arah pusat kota. Ia bertanya kepadaku mau hotel seperti apa. “Yang ada kolam renangnya!” kataku. Maka demikianlah, J menurut dan membawaku ke sebuah hotel bintang empat yang berada persis di tengah kota.

Kamarnya luas sekali. Lantainya dilapisi permadani tebal dan halus, mungkin terbuat dari bulu domba. Kasurnya sangat empuk, sebuah big-bed. Kamar mandinya sangat bagus, putih, tampak mahal, dan begitu bersih. Di ujung sana, di sebelah kasur, juga ada jendela besar yang diberi tirai cantik. Aku bisa memandang kota X ini sampai jauh dari atas kamar itu. Di bawahnya, seperti kamar hotel pada umumnya, ada sebuah meja kecil. Di sudut lain ada meja besar yang di atasnya terdapat Android Smart TV, air mineral, asbak, tissue, dan lain sebagainya. O iya, di dekat pintu, ada sebuah lemari besar nan cantik yang di pintunya direkatkan selembar cermin.

Selanjutnya, kami mandi dan istirahat sejenak di sana.

Di malam hari, pukul 11 malam, kami meninggalkan hotel dan berjalan kaki ke traditional-market yang sangat populer, bahkan sudah menjadi seperti trade-mark kota ini. Kami membeli beberapa camilan, sehelai-dua underware, boxer, dan menyaksikan sebentar musisi jalanan sebelum pulang. Ada banyak sekali orang di sana, seperti tidak kenal penat dan tidur. Itu tidak baik. Bagaimana pun kita membutuhkan istirahat yang cukup.

Pasti kau akan bertanya, entah itu sekarang atau pun nanti, apakah kami bercinta malam itu? Itu bukan urusanmu. Kuulangi, itu sama sekali bukan urusanmu. Aku tidak mau mengisahkan bagian itu. Kau cukup tahu jika aku bahagia, jika kami berdua sama-sama bahagia dan saling mengasihi.

“Hey, J, maaf membuatmu menunggu. Ini obatnya.”

“Kocok sebelum diminum!”

J menuruti perintahku dan segera menenggaknya. Aku sangat mengkhawatirkan kesehatannya. Aku harap obat itu bisa membantunya, atau setidaknya sedikit meringankan!

Bagaimanapun, di tengah malam dingin nan sunyi yang daun-daun jatuh diterbangkan angin, J harus pulang malam itu. Ia berkata kalau ia ingin tinggal tetapi situasi mengharuskannya pergi.

“Maka pergilah, J!” ujarku. “Tetapi, yang pasti dan harus kau pahami, kau takkan pernah bisa melupakanku! Kau akan senantiasa terkenang dan datang kepadaku!”

Itu adalah sebuah mantra yang menjadi kenyataan. Entah, bagaimana bisa terjadi, (adakah jagat raya membantuku?) sejak hari itu, sepulang kerja, J selalu datang kepadaku. Seringkali, tiba-tiba, ia mengirimiku pesan: saya ada di depan. Begitulah J, kekasihku itu. Terkadang ia tidak bisa ditebak. Kemudian kami akan mencari kedai kopi untuk menyantap makan malam bersama. Dan, malam-malam seperti itu, terus berulang sampai lima musim durian ke depan.

(*)

Palemraya, 2020

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s