Selepas Puluhan Tahun Pengembaraan

Cerita Hadiwinata

Maridang masih menimbang-nimbang, kalimat seperti apakah kiranya yang paling pas untuk menjelaskan kepada Nana anak pertamanya itu bahwa ia adalah ayahnya. Di dalam tasnya, tersimpan sejumlah uang dan baju batik bercorak Sarawak sebagai oleh-oleh. Juga ada sekantong besar jajanan coklat untuk buah hatinya yang ia peluk sepanjang perjalanan.

“Ini aku, bapakmu, Nak!”

Apakah kalimat sederhana seperti itu cukup, pikir Maridang. Atau mungkin ia mesti menjelaskan dengan kalimat-kalimat yang lebih banyak lagi. Atau, jikalau perlu, dan tampaknya memang perlu, ia mesti meminta bantuan Mantili istrinya untuk menjelaskan siapa dirinya.

Maridang memandang ke arah jendela yang mulai kabur diserbu rintik hujan. Seketika, matanya pun basah. Ia telah menghabiskan waktu dua hari tiga malam di perjalanan. Dari sebuah kota di Sarawak menumpang bus ke Pontianak yang jaraknya ratusan kilometer. Turun-naik bukit dengan jurang di kanan-kiri. Kemudian naik pesawat dan terbang ke Jakarta, untuk kembali melanjutkan perjalanan dengan bus, menyebrang Selat Sunda hingga akhirnya sampai ke kotanya yang teramat jauh. Jarak mahapanjang tersebut ia tempuh demi berjumpa dengan anak dan istrinya. Akan tetapi, ia masih belum juga sampai di rumahnya. Masih diperlukan waktu sekitar satu jam lagi.

Sepuluh tahun lalu, ia minggat meninggalkan kampung halamannya untuk merantau mencari uang. “Di Muaradua ini tak ada yang bisa dilakukan.” Begitulah jelas Maridang kepada Mantili. “Kota kecil, sepi, nan sempit, sesak dihimpit hutan dan perkebunan. Tak ada kehidupan di sini!”

Maka berangkatlah Maridang menumpang truk menuju Jakarta. Berharap bahwa di sana ia akan menemukan pekerjaan dengan gaji yang cukup. Akan tetapi, mencari kerja di Jakarta tidaklah semudah membuka resleting celana ketika Maridang hendak mengencing. Terlebih lagi bagi ia yang hanya tamatan SD dan berpenampilan kumal. Maridang mesti sabar dan menyusuri banyak jalan, juga bertanya kepada beribu orang mengenai lowongan pekerjaan.

Berhari-hari setelah berada di Jakarta, akhirnya Maridang bertemu seseorang yang menjanjikannya sebuah pekerjaan. Tetapi ini bukanlah pekerjaan yang mudah. Tidak masalah, jawab Maridang. Tetapi pekerjaan ini juga tidak di sini, letaknya jauh di Sarawak Malaysia sana. Maridang meminta waktu satu malam sebelum memberikan keputusan.

Maridang menelpon Mantili untuk bertanya mengenai kabarnya. Mantili bercerita panjang lebar dan memberitahu dirinya kalau ia tengah mengandung. Maridang terkejut sekaligus bahagia dan sedih. Ia tak tahu sama sekali kalau istrinya tengah mengandung saat itu. Demikian juga dengan istrinya sendiri. Maridang bahagia bukan main. Ia bahagia bahwa ia tak lama lagi akan menjadi seorang ayah. Bahkan, di saat itu juga, ia ingin pulang dan tak mau jauh-jauh dari Mantili. Akan tetapi, di saat yang sama, ia juga merasa sedih bahwa ia belum mempunyai pekerjaan. Terlebih lagi uang yang banyak sebagai bekal melahirkan dan susu serta popok anaknya kelak.

Maka Maridang hanya berpesan kepada Mantili untuk menjaga dengan baik anaknya itu. Ia berjanji akan bekerja keras demi mereka dan pulang secepat mungkin ketika tabungan sudah cukup.

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, Maridang pergi menghadap orang yang telah berjanji akan memberinya pekerjaan dan mengatakan kalau ia menerimanya. Kemudian berangkatlah Maridang bersama serombongan pekerja lainnya ke pulau Kalimantan yang jauh di seberang sana. Mereka disuruh untuk menjaga kebun sawit yang luasnya puluhan kilometer persegi. Mereka diminta untuk merawat dan memanen buah sawit yang telah siap.

Kini, di sinilah Maridang berada. Di atas sebuah bus selepas melalui sepuluh tahun pengembaraan di tanah rantau. Maridang memandang kota kelahirannya itu. Ada cukup banyak perubahan yang telah terjadi. Hutan-hutan menipis menjelma perkebunan karet yang lebih luas lagi, kios-kios minyak berdiri, minimarket-minimarket rapi nan bersih tumbuh bagaikan tanaman, juga beberapa restoran masakan Padang di pinggir jalan—meski di sana-sini masih terdapat banyak sekali jalan penuh lubang yang sangat menganggu pengendara dan penumpang, juga kedai kopi reyot di kanan-kiri seperti dulu.

 “Bagaimana dengan hatimu, Dik?” tanya Maridang dalam hati. “Adakah masih sama seperti dulu? Seperti sepuluh tahun lalu? Atau justru telah berubah serupa Muaradua?”

“Bagaimana kabar Nana? Kabar anak kita?”

Maridang kemudian menerka-nerka, mencoba membayangkan seperti apakah paras anak perempuannya yang tak pernah ia jumpai itu. Apakah lebih mirip dirinya yang berkulit hitam, berambut lurus, dan berhidung jambu. Atau justru lebih mirip Mantili yang berkulit kuning langsat dengan rambut tebal bergelombang dan hidung pesek seadanya.

Maridang mencoba berhitung, kalau putrinya itu sekarang berusia sepuluh tahun, berarti ia tengah berada di kelas tiga atau empat SD. Usia di mana seorang perempuan sedang beranjak menuju fase remaja. Maridang membayangkan putrinya mengenakan seragam putih-merah dengan dasi yang rapi dan lengkap dengan topi. Pasti cantik dan lucu sekali, pikirnya.

Jika ia pulang nanti, Maridang ingin membeli sepeda motor baru dan mengajak Nana putrinya tercinta itu jalan-jalan keliling kampung. Atau bahkan keliling Muaradua.

Maridang ingin mengajak Nana bermain air di Danau Ranau yang biru lagi luas. Ia ingin mengajaknya naik motor air dan pergi ke tengah danau, atau bahkan bila memungkinkan hingga sampai ke tepi Gunung Seminung yang luar biasa cantik. Lalu mendakinya bersama-sama hingga ke puncak dan melihat keindahan danau dari ketinggian. Maridang yakin Nana akan begitu bahagia. Apalagi dirinya yang penuh oleh rasa rindu setelah memeramnya bertahun-tahun.

Pada awalnya, Maridang hanya berencana untuk bekerja selama tiga tahun, atau paling lama lima tahun di sana. Akan tetapi, tepat di tahun-tahun ketika ia dan rombongannya hendak mengakhiri kontrak kerja, para polisi imigrasi Malaysia mulai mengetahui tempat persembunyian mereka, atau tempat di mana mereka beristirahat setelah bekerja merawat ribuan sawit dan memanennya.

Ketika itu, ketika para polisi berdatangan, ia dan rombongannya kocar-kacir berlari ke arah mana saja demi menyelamatkan diri. Ada yang berlari ke arah perkampungan, jalanan, bahkan hutan belantara. Beberapa di antara mereka ada yang tertangkap dan dijebloskan ke lokap atau penjara sempit bagi pekerja imigran gelap. Namun, untunglah nasib baik masih berpihak kepada Maridang. Di hari itu, ia berlari ke arah hutan dan bersembunyi di sana selama berhari-hari. Uang, pakaian, dan barang-barang miliknya tertinggal di tenda tempat ia tinggal. Ia tidak mungkin mendatangi tenda itu lagi. Itu sama saja menyerahkan diri.

Maka Maridang pergi ke tempat lain bagaikan tarzan yang baru keluar dari hutan dengan badan kotor dan kelaparan. Ia kemudian bekerja sebagai kuli bangunan dan mencoba bertahan sekuat tenaga di sana—demi impian untuk pulang dan bertemu anak-istrinya di kampung dengan membawa uang yang cukup.

Hujan telah berhenti ketika bus mencapai simpang. Maridang turun. Dihirupnya udara segar sehabis hujan kampung halamannya itu. Kampung yang telah ditinggalkannya selama bertahun-tahun.

Hari belum terlalu sore. Akan tetapi, matahari telah berangkat entah ke mana. Maridang melihat tiang-tiang listrik berdiri menjulang tertancap di banyak sudut, dihubungkan oleh kabel-kabel berwarna hitam. Bus-bus pariwisata pengangkut para pelancong dari berbagai daerah terus melintas, sebagaimana sama halnya dengan motor-motor dan mobil-mobil pribadi ke arah Danau Ranau. Berisik sekali. Tak ada lagi dilihatnya burung-burung yang terbang. Terlebih lagi suara jangkrik seperti puluhan tahun lalu.

Maridang mesti berjalan sekitar setengah kilometer lagi untuk sampai di rumah pondokannya. Melintasi beberapa perumahan dan minimarket yang kini telah banyak dibangun. Maridang kemudian berlari membawa ranselnya yang penuh dan sekantong oleh-oleh di tangan kanan dalam gelora kerinduan yang meluap-luap. Hingga badannya sedikit gemetaran dan airmatanya menetes.

Ketika sampai di depan rumahnya, Maridang tidak lagi mengenali rumah itu. Rumah itu sekarang telah berubah menjadi rumah batu yang belum dicat. Di pekarangannya, ia melihat ada Mantili yang tengah duduk memangku seorang bayi lelaki sambil tertawa. Di sebelahnya, ada satu pria dewasa yang tampaknya lebih tua darinya yang juga sedang bermain dengan sang bayi. Tak jauh dari mereka, Maridang melihat seorang perempuan kecil tengah bermain sendiri menggambari tanah dengan sebatang ranting.

Maridang kemudian melangkah maju. Ia kini melihat perempuan kecil itu dari jarak yang sangat dekat. Rambutnya keriting-bergelombang seperti pucuk-pucuk pohon di hutan Muaradua, kulitnya kuning seperti pasir di tepian Danau Ranau, dan berhidung pesek. Demikian pula dengan perempuan kecil itu, matanya yang besar dan bulat menatap penuh ke arah Maridang yang tak dikenalnya.

Maridang terdiam. Ia tidak tahu harus berkata apa. Airmata menetes di sudut matanya. (*)

Palemraya, 2019

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s