Semua Orang Telanjang

Cerita Hadiwinata

Pemuda itu tampak sumeringah; ia sangat bersemangat. Setelah berdiri dari kursi di balik meja, ia menyentuh banyak angka di layar ponselnya.

“… Oke, Kamu urus berkas-berkasnya. Setelah saya selesai melobi mereka dan cair, kita bagi di Jakarta,”

“Hati-hati, jangan meninggalkan jejak. Pastikan semuanya bersih,”

“Jangan khawatir, saya ahlinya!”

*

Nama saya Maridang, 27 tahun. Pemuda gagah dan tampan dari Kabupaten O. Pekerjaan: camat. Tepatnya, camat baru selepas dilantik bulan kemarin. Baru punya dua pacar—setiap minggu saya gilir apelnya. Dan, dua hari yang lalu baru saja melaporkan empat pegawai yang korupsi. Saat ini sedang diundang Bupati ke kantornya.

“Selamat ya, Pak, telah berhasil menangkap pegawai yang korup.”

“Ah, itu memang sudah menjadi tugas dan tanggung jawab saya, Pak!”

“Iya, betul. Tidak salah KPK memilihmu sebagai Duta Korupsi. Kau orang yang amanah.”

“Selain karena itu, saya memang sudah amat sangat muak dengan korupsi di negeri ini, Pak! Orang-orang memikirkan diri sendiri, sedikit sekali yang memikirkan rakyat,” jawab saya. “bahkan, rasa-rasanya, hampir setiap bulan ada kasus korupsi yang mencuat jadi berita nasional.”

“Saya kagum ada anak muda yang pemikirannya seperti Kamu, memedulikan nasib rakyat …,”

*

Jadilah, nama Maridang semakin dikenal di pemerintahan dan di kalangan masyarakat—dengan citra baik, tentu saja. Dalam beberapa minggu dirinya menjadi buah bibir: camat muda yang anti korupsi; camat baru yang ganteng dan anti korupsi; camat ganteng yang amanah.

Untuk mencari perhatian masyarakat dan gadis-gadis cantik, Maridang beberapa kali mengunjungi kampung-kampung yang masuk kawasan teritorialnya. Ia disambut dengan meriah oleh masyarakat. Terutama ibu-ibu dan anak-anak kecil. Sementara para gadis, mengintipnya dari jauh.

“Adik-adik di sini ada yang mau makan ice cream?” ujarnya pada anak-anak berisik yang mengerubunginya. Selanjutnya, suaranya diiringi kata “mau” yang menggelegar.

Sementara para ibu berasyik-masyuk menggodai Maridang dengan perkataan yang tidak penting dan tak punya arahnya.

“Pak, saya ice cream, Pak …,”

“Saya juga, saya juga!”

*

Akan saya berantas semua korupsi yang terjadi di kantor ini. Siapa pun pelakunya akan saya laporkan. Tidak peduli siapa orangtuanya, jumlahnya, rupanya, atau apa pun. Semuanya!

“Pak, ini laporan keuangannya, silakan dipelajari.”

Angka adalah teman saya sejak kecil. Nilai matematika saya selalu menjadi yang tertinggi waktu di sekolah dan saat pendidikan dulu. Selain itu, saya paham harga-harga di pasaran—saudara saya punya toko material.

“Ada yang mark up, jelas sekali ini!”

“Ah, yang benar saja, Pak? Saya mengeceknya empat kali,”

Setelah beberapa jenak ia mengecek ulang, “Maaf, Pak, saya tetap tak menemukannya,” ujarnya gamang.

“Bodoh! Kalau cara kerjanya begini, semua bisa korupsi! negara bisa hancur!”

“Ini, Kamu lihat jumlah yang dihabiskan oleh Pak Kanto untuk proyeknya itu,” kata saya sambil menunjuk datanya. “itu tidak wajar,”

“Sebagai bendahara harusnya kamu tahu harga pasar! Dia melakukan mark up! dan saya akan laporkan dia!”

*

Dalam satu minggu ini, sudah ada lima koran yang memuat berita tentang Maridang. Satu koran nasional dan empat koran daerah. Tajuknya beraneka ragam, tapi intinya sama: dia ganteng, masih muda, dan anti korupsi. Belum lagi media online—ada belasan artikel yang memuat berita tentangnya.

Satu demi satu wartawan bersama rombongan medianya datang ke kantor Maridang. Setiap hari pasti ada. Dalam sehari, dia bisa sampai harus melayani tiga hingga empat wawancara.

Nama Maridang semakin dikenal, ia bagaikan selebritis. Dirinya diperbincangkan banyak orang di Indonesia. Bahkan, fotonya beserta artikel yang menerangkan keluarbiasaan dirinya viral di berbagai media sosial dengan sambutan yang positif. Terutama di Facebook, Twitter, dan Instagram.

“Maaf, Pak, di depan ada sebuah media yang ingin wawancara.” ujar salah seorang pegawai. “Bagaimana, Pak? Bapak bersedia?”

“Saya sedang sibuk. Selain itu, nanti siang saya sudah harus terbang ke Jakarta. Dua stasiun TV menunggu saya.”

“Suruh mereka datang kembali Senin depan. Kalau mereka tidak mau ya terserah, biarkan saja.”

*

“Bagaimana, semua lancar?”

“Lancar, Bos! Tinggal satu langkah lagi. Setelah selesai—saya pastikan sore ini—Bos sudah bisa menemuinya.”

“Ya sudah kalau begitu, besok lusa saya akan bertemu dengannya.”

“Ya. Saya harap semuanya segera clear.”

“Saya tunggu kamu di Jakarta satu hari setelahnya.”

*

Dua bulan kemudian Maridang menikah. Namun, bukan dengan salah satu dari kedua pacarnya. Ia menikah dengan anak seorang pengusaha kaya.

Berita pernikahannya disorot oleh banyak wartawan dan menjadi berita di koran-koran, portal berita online, dan viral di media sosial. Banyak sekali yang patah hati karena pernikahannya.

Tamu pernikahannya banyak sekali, hampir dari seluruh golongan datang:  pedagang es keliling, pedagang kaki lima, tukang becak, tukang ojek, pembantu rumah tangga, wartawan, karyawan, dan rekan di pemerintahan.

“Selamat ya, Pak Maridang, semoga langgeng!”

“Semoga cepat dapat momongan ya, Pak Camat Ganteng!”

*

“Ah, indahnya hidup ini …” gumam saya ketika bangun dan melihat istri yang begitu cantik dan sexy masih terlelap di sisi.

Apa lagi yang aku butuhkan? Banyak orang yang kaya tapi tak rupawan; banyak orang yang rupawan tapi tak kaya. Atau, banyak orang yang kaya dan tampan tapi tidak terkenal dan sebaliknya dan lain sebagainya. Dan saya? Saya punya segalanya.

“I love my life! I love too much my life!”

Saya kecup kening istri, kemudian berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok gigi.

Saya berjalan menyusuri koridor hotel, menuruni lift, dan menuju pintu keluar. Saya ingin jogging di GBK.

Saya heran, bingung, dan tentu saja ketakutan; setelah sebelumnya berjalan lima langkah dari pintu masuk hotel. Saya melihat semua orang telanjang—di jalanan, di atas motor-motor dan di dalam mobil-mobil; di bawah pepohonan; di toko-toko, para pejalanan kaki dan para petugas kebersihan di tepi jalan; dan di mana-mana. Semua orang telanjang di semua tempat.

Saya berlari ke suatu arah. Saya berlari sekencang mungkin. Saya berlari ke mana saja. Setelah berlari selama lima menit, kira-kira, saya berhenti. Saya terjebak di jalan buntu. Tapi, setidaknya saya aman di sini.

“Hah … hah … hah …,” betapa tersengal napas saya.

Posisi saya condong dengan tangan di lutut, hendak jongkok.

Tapi, saya terkejut setengah mati.

Saya melihat tubuh

saya sendiri

tanpa

pakaian.

***

Palemraya, 2017

*Diterbitkan pertama kali di koran Jawa Pos grup Radar Mojokerto.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s