Perempuan Tunggu Tubang

Cerita Hadiwinata

Pagi hari ketika siamang masih tidur dan satu-dua harimau meninggalkan jejaknya, aku bersama Tobi suamiku, Neneng, Marni, dan serombongan petani berangkat ke Hutan Desa. Jaraknya sekitar dua kilometer dari perkampungan. Kami berjalan susuri setapak jalan yang di genangi becekan sisa hujan di sana-sini. Kami membawa gunting kebun, cangkul, parang, dan arit. Peralatan yang kami gunakan untuk memangkas ranting dan membersihkan gulma di sekitaran pohon kopi.

Namaku Alin. Asli dari tanah Semende yang berdiri di kaki Pegunungan Bukit Barisan. Di tanah ini, udara begitu dingin. Bahkan bisa menembus baju dan menusuk tulang. Apabila kamu datang ke sini, apa yang akan kamu lihat adalah hamparan perkebunan kopi, sawah-sawah nan hijau maha luas, juga jajaran Pegunungan Bukit Barisan.

Aku punya satu kakak lelaki dan dua adik perempuan. Sejak meninggalnya kedua orangtuaku akulah yang bertanggung jawab terhadap semuanya. Begitulah adat menggariskan nasibku sebagai anak perempuan tertua menjadi tunggu tubang.

Aku tak memiliki rutinitas lainnya kecuali menjaga dan merawat kebun kopi, sawah, serta rumah. Di malam hari atau di hari-hari cuti, terkadang aku pergi untuk menghadiri kenduri para penduduk. Mereka biasanya mengadakan syukuran, sunatan, atau pernikahan. Ramai sekali warga kampung yang berdatangan. Meramaikan acara sehingga bergitu meriah penuh sukacita.

Aku biasanya bangun tidur ketika fajar mulai menyingsing dan suara azan sayup-sayup terdengar dari langgar. Umumnya sebagian penduduk pergi ke sana untuk shalat. Aku memilih beribadah di rumah karena jaraknya yang cukup jauh. Selepas itu aku akan menjerang air, menanak nasi, memasak sayur, dan menggoreng ikan yang aku beli kemarin sore. Itulah bekal yang akan kubawa ke kebun dan menjadi sarapan bagi kedua adikku sebelum berangkat sekolah.

Di saban hari, sebelum menikah dengan Tobi dan hendak berangkat ke Hutan Desa, aku menjemput kedua kawanku: Neneng dan Marni. Tetapi itu tak cukup. Selalunya kami menunggu serombongan petani laki-laki untuk berangkat bersama.

Di Semende kampungku, bukanlah sesuatu yang aneh lagi apabila kita tengah berjalan-jalan, terutama di sepanjang jalan menuju Hutan Desa, ada harimau berkeliaran. Kaki Pegunungan Bukit Barisan ini adalah kawasannya. Kami yang notabene orang asli Semende tidak bisa dikatakan tidak takut terhadap puyang. Demikian orang-orang kampungku menyebut harimau. Kami juga takut. Terlebih lagi apabila puyang sudah mendekat dan mengaum.

Tahun lalu Mang Bair yang rumahnya hanya berjarak tujuh pohon kelapa dari rumahku mati dimakan puyang. Wajahnya dicakar, sebagian badannya dicabik-cabik mengenaskan. Sungguh buruk nian nasib Mang Bair hari itu. Ia mati diterkam puyang ketika sedang berjalan menuju Hutan Desa. Kata orang darah Mang Bair deras mengucur bak air dari keran. Anak dan bininya menangis tak henti-henti meratapi kepergiannya. Segera setelah kejadian itu penduduk kampung ditemani tentara dan polisi berbondong-bondong mengeluarkan samurai dan mengejar sang puyang.

Peristiwa kematian Mang Bair dimakan puyang ini bukanlah peristiwa yang pertama. Sebelumnya sudah pernah terjadi beberapa peristiwa serupa. Padahal zaman dahulu puyang-puyang ini tak pernah mengganggu. Begitulah kata para tetua adat yang kebingungan karena peristiwa ini: mengapa semua ini bisa terjadi?

Selepas peristiwa itu Kepala Kampung berulangkali mengimbau agar apabila warga hendak pergi ke Hutan Desa sebaiknya bersama rombongan dan membawa senjata. Kami seringkali membawa bambu runcing yang panjang sebagai tongkat. Barangkali itu bisa digunakan apabila ada puyang datang menyerang. Sementara gunting kebun, cangkul, parang, dan arit pun bukan tidak mungkin akan kami gunakan apabila situasi mendesak.

Sejak ratusan tahun lalu, ketika orang barat datang dan menjadi tuan di negeri ini, leluhur kami sudah berkebun kopi. Semua orang—hampir tak terkecuali. Kami buka hutan rimba. Yang di sana hidup berbagai macam binatang liar dan buas. Kami tebas semak-belukar dan kami jadikan perkebunan. Berpuluh-puluh ribu kilometer tanah kami tanami pokok kopi. Bekerja siang dan malam tiada henti. Kopi adalah identitas kami. Tanpanya, entah bagaimana nasib penduduk Semende.

Namun, sesungguhnya, menurut cerita para tetua kampung. Yang mengajarkan penduduk untuk membuat kopi dengan betul adalah para kompeni itu. Sebelumnya para leluhur menyeduh kopi dari daunnya. Lalu para penjajah itu datang dan mengajari bagaimana cara membuat kopi dengan baik dan benar. Yaitu dari bijinya.

Apabila kamu datang ke kampungku maka jangan heran kalau melihat ada begitu banyak hamparan biji kopi di pinggir jalan. Biji-biji kopi itu sedang kami jemur. Cara terbaik menjemurnya adalah di atas aspal. Biji-biji itu akan lebih cepat kering. Seringkali biji-biji kopi itu dilindas oleh mobil, motor, dan truk-truk. Tapi tak masalah. Itu justru bagus. Kami memang menghendakinya agar kulit biji kopi mengelupas. Tapi itu masih belum cukup. Biji-biji kopi tadi mesti kami masukkan ke mesin lagi supaya seluruh kuitnya mengelupas dengan sempurna. Langkah selanjutnya ialah pencucian sebelum dijemur kembali di bawah terik matahari. Setelah itu barulah biji-biji kopi itu bisa disangrai hingga menghitam dan digiling untuk dijadikan bubuk menggunakan mesin penggilingan. Tetapi kami biasanya menjual biji-biji kopi itu secara langsung ke para tengkulak atau pabrik penggilingan. Ada banyak sekali di sini, kami bebas memilih siapapun yang membeli dengan harga paling mahal.

Sekitar 20 tahun silam pemerintah mengambil kebun kami. Ada ratusan hektar kebun yang dibatasi dan disebut sebagai Hutan Lindung. Kata para tetua alangkah susahnya zaman itu. Para penduduk yang sejak ratusan tahun lalu menggantungkan hidup kepada kopi harus beralih mencari pekerjaan lain. Sebagian mencoba membuat sawah. Sebagian yang lain merantau ke kota-kota besar. Ada yang ke Muara Enim, Palembang, bahkan Jakarta.

Akan tetapi, syukurlah sebagian hutan itu sudah dikembalikan. Mereka menamainya Hutan Desa. Hutan yang selalu aku kunjungi itu. Selain tanaman kopi, bapak dan mak dulu juga menanam durian, nangka, dan jengkol. Walau tidak banyak tetapi cukup. Begitu juga dengan para penduduk lainnya. Beberapa bahkan ada yang menanam alpukat.

“Semua bapak tanam, Nak!” kata bapak suatu hari. “Semua, asalkan bisa dijual dan memberi penghidupan untuk kita. Ya, namanya juga mencari makan dari tanah!”

“Lahir dari tanah, makan dari tanah, dan akan kembali pada tanah pula,” kata mak menimpali dan melanjutkan. “bukan begitu, Pak?”

Demikianlah mak dan bapakku. Mereka terkadang terdengar bijak—tapi itu belum tentu kata-kata mereka sendiri. Mereka terkadang mengucapkan kembali perkataan pak ustadz yang mereka dengar di langgar. Bapak dan makku orangnya sederhana dan agak pendiam. Mereka juga jarang marah kepada anak-anaknya. Baik kepadaku maupun kepada Sahirin kakakku dan kedua adikku. Sehari-harinya mereka hanya berkebun dan berkebun. Ketika musim kopi belum tiba, seperti sekarang ini, mereka akan menceburkan diri ke sawah. Seperti tidak kenal kata lelah. Mereka jarang sekali istirahat. Tapi sekarang mereka telah tiada. Satu per satu meninggal karena sakit komplikasi. Akulah kini yang menggantikan mereka dan melanjutkan semua pekerjaan. Menjaga kedua adik dan mencari uang. Sementara Sahirin kakakku seperti kurang peduli.

Bapakku meninggal dua tahun lalu—setelah sebelumnya mak duluan yang pergi. Itulah hari terakhir Sahirin pulang dan tidak pulang-pulang lagi sampai dua tahun kemudian dan menyebabkan satu kemalangan atasku. Ia sudah tidak tinggal di kampung sejak masuk sekolah menengah. Ia ingin sekolah dan sukses di kota. Maka berangkatlah ia diantarkan oleh bapak beberapa tahun silam untuk sekolah di Palembang.

Sahirin orangnya keras kepala dan cerewet. Walaupun ia pintar, ia seharusnya tidak berkata kasar kepada bapak dan mak yang membuat mereka sakit hati. Untunglah bapak dan mak penyabar.

Ketika bapak dan mak masih hidup, Sahirin biasanya pulang ke kampung. Sekali dalam setahun. Tapi kini tidak lagi. Barangkali ia berpikir bahwa ia tidak lagi merasa perlu untuk pulang. Enam bulan lepas, tidak ada angin atau pun hujan, tiba-tiba ia datang. Aku dan kedua adikku kaget. Tapi ia seperti biasa saja. Sama seperti dulu.

Kata Sahirin, “Pegunungan Bukit Barisan ini adalah tembok pembatas sekaligus keberuntungan bagi penduduk Semende.” Menurutnya, Pegunungan Bukit Barisan ini telah menyekat dan menutupi kehidupan penduduk Semende dari dunia luar. “Bahkan matahari pun hanya sekejap saja singgah di sini!” sambungnya.

Aku tidak tahu apakah yang dikatakan Sahirin itu benar atau salah. Hanya saja, yang perlu ia ingat baik-baik, bahwa ia bisa sekolah dan tinggal di kota  karena hasil dari Pegunungan Bukit Barisan inilah. Kopi tidak tumbuh di tanah rendah. Ia tahu itu.

Sahirin berulangkali menyuruhku untuk pergi dari kampung dan melanjutkan sekolah di kota. Ia ingin aku berjuang di sana ketimbang tinggal dan  bertahun-tahun menunggui hasil kopi. Aku tak tahu harus menjawab apa. Selain itu, aku juga tak tega untuk meninggalkan bapak dan mak. Aku adalah perempuan tertua. Asli dari Semende. Sudah digariskan nasibku untuk menjadi perempuan tunggu tubang sang penjaga alam Semende.

Sahirin berkata apabila aku tidak meninggalkan Semende maka selamanya aku akan menjadi orang bodoh. Jauh tertinggal zaman dan tidak mengerti apa pun. Barangkali Sahirin benar. Aku tidak mengenal banyak hal. Yang kutahu hanyalah berkebun. Seperti Pegunungan Bukit Barisan ini, kata orang, ia menghampar di sepanjang pulau Sumatera, dari Aceh sampai Lampung. Serupa tulang punggung. Gunung Kerinci di Jambi adalah puncak tertingginya. Tetapi aku tidak tahu apakah  itu betul atau salah. Aku tidak pernah keluar dan meninggalkan Semende kampungku. Tidak juga menyelesaikan sekolah.

Enam bulan lepas ketika Sahirin pulang, ia mengajakku berjalan keliling kampung sekaligus mengobrol. Sahirin bilang, “Semende tidak akan pernah maju kalau keadaan tidak berubah, gerakan-gerakan tidak diambil. Terlebih lagi karena adat Tunggu Tubang yang secara tidak langsung telah menjadi penyebab daerah ini tidak bisa maju!” katanya dengan suara membara. Matanya seperti berapi-api.

“Tetapi ini adalah adat. Kita tidak bisa menentangnya.” Kataku menanggapi perkataannya.

“Persetan dengan adat! Sudah saatnya Semende membuka diri kepada dunia luar dan modernisme.” Katanya lagi. “Mau sampai kapan kampung kita terus terperangkap dalam dunia gelap hutan belantara dan semua kebodohan ini?”

Aku tidak terlalu mengerti apa yang dikatakan Sahirin. Otakku tidak sampai untuk perkataan-perkataannya yang demikian tinggi. Membuat diriku bingung dan kepalaku pusing.

Apa yang aku ingat dari obrolan dengannya enam bulan lalu adalah ia ingin menjual sawah kami kepada orang kota.

“Bapak dan mak sudah meninggal. Bagaimana kalau kita jual saja sawah ini?” katanya tanpa dosa sambil menjunjuk-nunjuk sawah kami yang setiap sore selalu kurawat.

Gulma-gulma senantiasa aku siangi. Padi-padi kutaburi pupuk. Ikan-ikan aku pelihara di sana. Aku mengurusi semuanya seorang diri dengan sepenuh hati.

“Di atas sawah kita ini, akan dibangun sebuah resort kecil. Tapi Alin tidak perlu bingung. Semuanya saya yang urus. Dibantu orang-orang kota.”

Sahirin bilang bahwa jika kami menjual sawah itu dan orang kota menyulapnya menjadi resort maka daerah Semende akan lebih dikenal oleh orang banyak. Pengunjung-pengunjung akan berdatangan. Menginap di sana barang beberapa hari di ujung minggu atau di hari-hari libur.

Sahirin mengatakan juga bahwa pembangunan akan terjadi begitu cepat ketika resort ini telah dibangun. Mall-mall akan didirikan, minimarket-minimarket pun begitu. Tak lupa dengan gedung bioskop dan sekolah-sekolah yang lebih banyak yang amat sangat diperlukan oleh penduduk Semende.

Di hari itu, aku mendengarkan dengan penuh seksama setiap ucapannya. Aku rasa ucapannya itu ada benarnya juga. Daerah Semende ini perlu dibuka. “Jika mau menunggu tangan pemerintah maka akan sangat susah dan lama.” Begitulah kira-kira kata Sahirin yang sering terngiang-ngiang di kepalaku.

Namun, tanah dan seluruh harta warisan dari nenek moyang ini tidak boleh dijual. Ia bisa rusak. Leluhur telah menunjukku sebagai generasi selanjutnya sebagai penanggung jawab alam Semende. Aku tidak boleh mengubahnya setelah beratus tahun dijaga dan dirawat dengan susah-payah.

“Aku tidak bisa, Kak!” jawabku kepada Sahirin. “Aku tidak mau berkhianat kepada leluhur. Aku ini Tunggu Tubang. Gunung ini bisa marah dan murka!”

“Kau memang tidak pernah berubah dari dulu!” Kata Sahirin sebelum meninggalkanku. “Selalu bodoh dan kolot!”

Sahirin pergi dari rumah dan membawa semua pakaiannya. Mukanya merah karena marah kepadaku. Aku mau saja menurut kepadanya. Tapi aku tidak bisa. Leluhur, semua orang kampung, bapak dan mak akan kecewa kepadaku karena tidak bisa menjaga dan mempertahankan adat serta kampungku Semende yang asri.

Di keluargaku aku memang anak perempuan tertua. Tetapi pangkatku sebagai perempuan Tunggu Tubang belum resmi apabila aku belum menikah. Aku khawatir kalau sampai Sahirin berbuat sesuatu yang melampaui batas. Malam itu, aku berkata kepada pacarku, “Bagaimana kalau kita menikah dalam waktu dekat ini?” Tobi pacarku agak ragu. Tetapi aku meyakinkan dia dengan macam-macam alasan.

Berselang satu minggu dari malam itu aku dan Tobi menggelar pesta pernikahan. Pamanku Dencik dan bibiku Masdah yang membantu menyiapkan segalanya. Aku sedih karena di hari pernikahanku kedua orangtuaku telah tiada. Tapi untunglah masih ada paman dan bibiku. Setidaknya mereka adalah wakil dari kedua orangtuaku.

Di tanah lapang kampungku seekor kerbau besar digorok sebagai lauk nantinya. Ketua Kampunglah yang menjadi ketua panitianya. Bahkan ia yang turun tangan langsung dalam menyebelih kerbau itu. Ia menggunakan golok panjang yang biasa ia gunakan. Ia asah golok itu dengan begitu tajam terlebih dahulu sebelum mengambil nyawa si kerbau. Ada banyak sekali penduduk kampung yang datang dan menyaksikan penyembelihan kerbau itu. Apalagi kanak-kanak. Begitu berisik menjerit-jerit berkata tentang banyak hal.

Para penduduk beramai-ramai membantu menguliti dan memotong-motong kerbau itu. Kelak akan dimasak menjadi rendang. Mereka jugalah yang memasaknya. Aku merasa beruntung sekali telah lahir dan tinggal di Semende ini.

Kedua adik perempuanku menangis dan bertanya akan bagaimana nasib mereka kalau aku menikah. Aku meyakinkan mereka kalau aku tidak akan pernah pergi dan meninggalkan mereka.

“Apa Kak Sahirin tidak pulang?” tanya mereka.

Aku menjawab kalau aku tidak tahu. Aku telah menelponnya dan ia tidak mengangkat. Aku juga telah mengirimkan pesan singkat. Itu juga tidak dibalas. Barangkali ia masih marah kepadaku. Atau justru tambah marah karena pernikahan ini.

Kami dinikahkan oleh pamanku di suatu pagi—di hadapan bapak penghulu yang kami segani. Para penduduk datang dan menjadi saksi. Aku merasa bahagia sekali.

Aku dan Tobi suamiku mengenakan baju pengantin khas adat Semende. Warnanya kuning keemasan. Dikepalaku terdapat mahkota besar bak tuan puteri. Begitu juga dengan Tobi. Ia pun mengenakan mahkota dan menjadi rajanya. Ia memujiku cantik sekali. Ia pun tak kalah. Ia tampak begitu gagah. Seusai acara akad nikah, kami diminta untuk naik ke atas perahu dan diarak keliling kampung. Perahu itu indah sekali. Di bagian depannya dihiasi berbagai macam bunga. Di bagian tengahnya diberi sebuah payung agar kami tidak kepanasan. Alangkah malu rasanya. Tapi di sisi lain aku juga merasa bahagia. Wajahku merekah-merona melebarkan senyuman kegembiraan. Diam-diam Tobi meraih tanganku dan menggenggamnya. Aduhai.

Perahu yang kami naiki itu ukurannya tak begitu besar. Dipikul oleh enam laki-laki kuat. Rasanya seperti orang mati saja diangkat seperti.

“Hush! Jangan bilang begitu!” kata Tobi sambil mengarahkan telunjuknya di tengah bibirnya.

Seperti inilah adatku. Di bagian depan sekali ada barisan para lelaki berkopiah yang menabuh rebana. Kami berada di tengah-tengah. Di belakang kami ada serombongan perempuan yang juga menabuh rebana dan menyanyikan lagu-lagu islami serta salawat nabi.

Berselang dua minggu selepas pernikahan aku hamil. Tobi bersorak-sorai penuh kegembiraan. Apalagi aku. Demikian juga dengan kedua adikku. Sejak itu aku sudah mulai mengurangi rutinitas berangkat ke Hutan Desa dan sawah. Tobilah yang menggantikan. Pagi hari ia merawat kopi dan sore hari ia menceburkan diri ke sawah.

Satu hari di siang yang bolong Sahirin pulang. Aku yang kebetulan berada di rumah menyambutnya dengan bahagia. Tentu saja aku rindu kepadanya. Aku sangat berharap ia akan tinggal di Semende lagi dan membantuku mengurus kebun kopi. Meskipun akulah si Perempuan Tunggu Tubang, tetapi seharusnya yang bertanggung jawab untuk menjaga dan merawat Semende adalah semua penduduk.

“Aku sudah menjual sawah kita!” kata Sahirin tiba-tiba.

“Apa maksudmu, Kak?” kataku bingung.

“Ya, aku sudah menjualnya ke orang kota.” Katanya lagi. “Mereka sudah sampai di sawah membawa tanah dan ekskavator.”

Sahirin tidak punya hak itu. Akulah pewaris tanah dan rumah ini.

“Tapi Kau tidak bisa menjualnya. Itu tanah adat. Suratnya pun ada padaku”

“Coba saja Kau cari surat itu kalau masih ada padamu!”

Aku langsung berlari ke arah sawah. Aku tidak tahu entah apa yang ada di pikiran Sahirin sehingga ia begitu nekat untuk menjual tanah ini. Seolah ada sesuatu yang menuntut di belakangnya. Apakah hutang? Atau perempuan kota sana? Aku sama sekali tidak tahu.

Di sawahku truk-truk itu telah menurunkan begitu banyak tanah. Di belakangnya ada sebuah ekskavator. Aku takut sekali hari itu. Semua ini tidak boleh terjadi. Aku berlari dengan kencang ke arah mereka—membawa perut buncitku yang sudah begitu besar.

“Siapa kalian?”

“Pergi sekarang juga!”

Tobi yang sejak pagi sudah berada di sawah tampak memar di beberapa bagian wajahnya. Aku marah dan mengamuk kepada semua supir itu. Mereka aku pukul dan ludahi.

Seorang lelaki berbadan tambun balas memukulku dengan tangannya yang besar. Pukulan itu telak. Mengenai punggungku yang membuat aku jatuh ke dalam longkang yang cukup dalam. Aku mengerang begitu kesakitan.

“Tobiii …”

Suamiku berteriak dengan begitu kencang. Penduduk kampung berdatangan. Begitu juga dengan Sahirin. Penduduk kampung marah dan mengeluarkan semua parang panjang. Memaki dan menyumpah-serapahi semua supir truk dan Sahirin. Mereka diusir dan tidak diperbolehkan lagi datang ke Semende.

Bayi di dalam kandunganku mati karena kejadian itu. Aku menangis tiada henti. Semua ini ulah Sahirin. Aku hanya menjalankan tugasku menjaga Semende yang kucintai.

Kejadian itu melekat erat di ingatanku. Membuatku begitu sedih. Wajahku murung berhari-hari. Tobi suamiku menyuruh aku untuk tabah. Ia mengajakku kembali berkebun di Hutan Desa. Kami membawa gunting kebun, cangkul, parang, dan arit. Aku juga tak lupa membawa bekal agar kami tak kelaparan. Tobi membelikanku jaket baru supaya aku tidak menggigil kedunginan. Maka berangkatlah kami berkebun kembali. Di jalan aku melihat Neneng, Marni, dan serombongan petani. Di tangan mereka, selain berbagai peralatan berkebun, juga tampak tongkat bambu kuning yang runcing. Mengenangkanku kepada puyang dan nasib Mang Bair. Kemudian kami berangkat bersama-sama. Menjadi petani Semende kembali dan merawat kebun-kebun kopi.

(*)

Palemraya, 2020.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s