Hikayat, Penyelamat, Dan Masa Depan Makam Para Raja

Esai Hadiwinata

Sejak belasan tahun silam, cagar budaya yang berbentuk dataran tinggi di kota Palembang dan dikenal dengan nama Bukit Siguntang itu, cukup ramai dikunjungi. Areanya luas, dibalut rumput gajah, dipenuhi pepohanan rindang, serta dipagari tembok batu. Meskipun demikian, cagar budaya tersebut hanya dikunjungi oleh anak sekolah atau muda-mudi yang hendak beradu kasih. Seringkali, mereka bahkan tak segan melepas nafsu berahi pada sebuah gazebo atau sesemak pepohonan. Selain itu, terdapat pula anak-anak komunitas punk dan pengamen yang sekadar beristirahat atau menghitung uang hasil kerja seharian. Tak jarang, mereka melakukan hal-hal yang tidak pantas, seperti memalak, mabuk-mabukan, dan mengonsumsi obat-obatan terlarang.

Kenyataan yang demikian itu, tentu saja merupakan sebuah ironi, karena tempat yang mereka gunakan adalah kompleks pemakaman para raja ratusan tahun lalu yang berkuasa di kota itu, bahkan Indonesia dan negeri-negeri seberang; yakni Raja Sigentar Alam, Pangeran Raja Batu Api, Putri Kembang Dadar, Putri Rambut Selako, Panglima Tuan Junjungan, Panglima Bagus Kuning, dan Panglima Bagus Karang. Di bukit itu juga, telah ditemukan artefak-artefak yang bersifat buddhisme, reruntuhan stupa, fragmen-fragmen prasasti, serta beberapa arca, seperti arca Buddha bergaya amarawati asal India bagian selatan yang terkenal di abad 2 hingga 5 Masehi.

Namun, sebagai anak sekolah dan muda-mudi yang “baik”, atau demi menjadi anak punk dan pengamen yang ikut melestarikan cagar budaya, mereka memilih mengunjungi—terlepas dari apa yang mereka kerjakan di sana—ketimbang tidak mengunjungi dan membiarkan cagar budaya tersebut semakin belantara dimakan waktu; seperti mahasiswa, guru dan dosen, serta akademisi terkait. Hanya saja, tentu saja kita tidak dapat berasumsi negatif terhadap mereka yang tidak mengunjungi, menjaga, dan melestarikan cagar budaya ini. Hal itu disebabkan realitanya yang memprihatinkan, seperti pepohonan kian lebat, cat-cat bahkan temboknya sendiri mengelupas, berkarat, dan pecah di bagian samping dan belakang sehingga sebagian kelompok memilih masuk lewat sana agar tidak perlu membeli tiket, hingga monyet-monyet liar berkeliaran keluar masuk kompleks pemakaman yang membuat cagar budaya ini tampak semakin tidak terawat. Pada akhirnya, cagar budaya ini hanyalah sebidang tanah tinggi—yang terutama di malam hari begitu—menyeramkan dan tak berguna.

Kondisi yang demikian ini, tentu saja menimbulkan tanya: siapa yang akan terpesona terhadap cagar budaya berbentuk makam para raja ratusan tahun silam dan tanah penemuan bebenda purba dengan rupa yang sama sekali menghilangkan minat untuk masuk dan membuang waktu karena begitu menyeramkan?

Asian Games 2018

Ditemukannya beberapa peninggalan purba serta terdapat tujuh makam raja, ratu, serta panglimanya membuat bukit ini dipagari dengan tembok batu tinggi, kemudian dicap sebagai situs arkeologi dan cagar budaya puluhan tahun silam. Tetapi sejak saat itu, renovasi yang dilakukan terhadap cagar budaya ini sangat minim.

Bila ditilik lebih lanjut, penyebab cagar budaya ini kurang diminati dan dilestarikan, maka tentu saja pemerintah daerahlah yang akan menjadi fokus. Pemerintah daerah kota Palembang tampaknya cenderung untuk menjadikan kota tersebut seperti kota-kota metropolitan di banyak negara besar—seperti Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Jerman, dan Belanda. Terbukti dari tampilan kota itu sekarang ini: gegedung, hotel-hotel, serta mall-mall dibangun dengan tinggi menjulang; jalanan dan pasar tradisional dirapikan; fasilitas-fasilitas umum dimaksimalkan, juga moda transportasi umum disediakan dengan kelas yang cukup bisa bersaing dengan negara-negera maju lainnya: transmusi (busway dalam kota) dan kereta api ringan (trem atau LRT). Hal tersebut dilakukan karena acara-acara olahraga tinggat nasional dan internasional semakin sering dihelat di kota ini, menjadikan kegiatan yang berbau seni dan budaya tersampingkan. Padahal, sebetulnya, pemerintah daerah memiliki pilihan, menjadikan kota Palembang metropolitan tetapi tetap menjunjung tinggi nilai-nilai kelokalan, seni, dan budaya; atau hanya menjadikannya metropolitan. Tampaknya, pemerintah kota Palembang memilih pilihan kedua, karena seni dan budaya di kota Palembang hampir bisa dikatakan mati. Hanya terdapat satu-dua komunitas anak muda yang fokus terhadap seni dan budaya, dan kampung-kampung wisata kesenian, museum, serta cagar budaya sama sekali sepi. Padahal, seni dan budaya adalah cikal bakal suatu daerah bisa terbentuk dan maju, dan salah satu faktor penarik minat wisatawan—terutama wisatawan mancanegara.

Di tahun 2018 kemarin, ajang olahraga terbesar se-Asia dihelat di Indonesia, tepatnya di ibukota Jakarta dan kota Palembang. Disebabkan oleh itu, hal tersebut menjadikan pemerintah kota Palembang begitu gencar memperbaiki cagar budaya Bukit Siguntang ini, membuatnya ditutup dan direnovasi sama sekali sejak tahun 2016 dan baru akan dibuka ketika ajang Asian Games 2018 dimulai. Barangkali, ketika dibuka, cagar budaya ini memiliki wajah, tubuh, serta penampilan baru yang membuat wisatawan lokal maupun asing tertarik untuk masuk dan mengeksplorasinya.

Hanya saja, terbetik sebuah tanya di dalam benak, apakah cagar budaya Bukit Siguntang ini sama sekali tidak akan direnovasi apabila tidak ada ajang Asian Games 2018?

Masa Depan Bukit Siguntang

Selambat ulat pada daun di sebatang pohon di Bukit Siguntang merayap, yang pada akhirnya akan sampai pada ujungnya, perhelatan ajang Asian Games 2018 itu pun akan berakhir. Selepas itu, bagaimanakah nasib cagar budaya ini? Akankah tetap ramai dikunjungi? Atau, lambat laun kembali seperti dahulu kala: pelan-pelan dimakan waktu dan cuaca, lalu monyet-monyet liar berkeliaran, menjadi markas bagi muda-mudi beradu kasih, para pengamen menghitung hasil kerja seharian, serta anak punk berpesta-pora?

Hal tersebut tentu saja kembali kepada pemerintah kota Palembang, sebagai pihak yang mempunyai kuasa. Apabila pemerintah memiliki seberkas niat untuk menjaga dan melestarikannya, tentu saja cagar budaya ini bisa menarik perhatian wisatawan lokal dan asing dalam jangka waktu yang panjang. Banyak cara yang bisa ditempuh untuk mewujudkannya, seperti membuat buku panduan perihal area dan sejarahnya, lalu dibagikan kepada pengunjung; membangun sebuah museum di kawasan cagar budaya tersebut; menyediakan beberapa tenaga pendamping yang mumpuni bagi wisatawan untuk menceritakan hal-hal terkait cagar budaya ini; dan lain sebagainya. Sebab, renovasi cagar budaya Bukit Siguntang ini tentu saja tidak bisa hanya berhenti pada tampilan fisiknya, tetapi juga pada aspek sejarah dan edukasinya. Hal ini sangat dibutuhkan, sebab di sanalah poin penting cagar budaya ini, sehingga wisatawan bisa memperoleh ilmu selepas mengunjunginya; seperti siapa itu Raja Sigentar Alam, apakah ia berasal dari kerajaan Sriwijaya yang sesungguhnya atau dari Kesultanan Palembang? Bagaimana pengaruh pemerintahannya di zaman ketika ia menjabat terhadap rakyatnya? Lambat laun, labirin sejarah tentang kerajaan-kerajaan di Indonesia, terutama kerajaan Sriwijaya dan Kesultanan Palembang, yang jalan keluarnya tidak diketahui sama sekali oleh penduduk, barangkali akan terungkap—seperti, apakah kerajaan Majapahit dan Singasari memiliki hubungan dan keturunan dengan kerajaan Sriwijaya, dan lain sebagainya.

Tentu saja, hal tersebut penting bagi rakyat Indonesia dan melayu pada umumnya, dan Palembang pada khususnya, untuk mengetahui nenek moyang mereka. Karena salah satu manfaat mempelajari sejarah, atau mengetahui masa lalu, adalah mendapatkan masa depan yang lebih gemilang. Sebab mereka akan mengetahui telah di tingkat mana mereka berada, dan tingkat mana lagi yang harus dan akan mereka capai.

Selain itu, pemerintah kota Palembang pun dapat belajar pada candi Borobudur atau candi Prambanan. Di kedua candi tersebut, telah begitu banyak acara dihelat—baik tingkat nasional maupun internasional. Di candi Borobudur, terdapat acara BRI Prioritas Mahakarya Borobudur, Borobudur Story Telling Festival, Borobudur Nite, Borobudur Marathon, dan International Word Heritage Conference. Sementara di candi Prambanan, terdapat acara Tour de Prambanan, Mandiri Jogja International Marathon, Prambanan International Yoga Day, Prambanan Jazz Festival, dan National Bird Contest. Barangkali beberapa acara di kedua candi tersebut kurang cocok dengan cagar budaya Bukit Siguntang, tetapi tentu saja bisa diganti dengan acara-acara lain.

Apabila cagar budaya Bukit Siguntang ini dikelola dan dilestarikan dengan baik oleh pemerintah, maka bukan tidak mungkin kota Palembang akan semakin sering dikunjungi wisatawan mancanegara, tetapi tidak hanya karena sektor olahraga, melainkan seni dan budaya. Kemudian, setelah itu, para investor dan pebisnis semakin bersemangat untuk mengembangkan sayap usaha mereka di kota Palembang yang akan membawa banyak dampak baik.

Namun, lagi-lagi semuanya kembali kepada pemerintah kota: apakah ada seberkas niat itu, untuk menjaga dan melestarikan pesona cagar budaya Bukit Siguntang ini? (*)

*Esai ini adalah juara favorit di lomba esai Cagar Budaya Kemendikbud.

2 Replies to “Hikayat, Penyelamat, Dan Masa Depan Makam Para Raja”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s