Lukisan Expulsion et Viol, Tragedie de 1998

Cerita oleh Hadiwinata Kami duduk sejajar, sama rendah, menatap heterogenitas dunia yang tenteram dari sebuah sudut. Seperti dedaunan, angin membawa merdu suara biola, flute, dan harmonika ke seantero taman. Lembut menyapa, seolah hendak membelai dan menyampaikan suatu pesan. Begitu juga dengan kicau burung, suara nyaring bocah, celoteh orang-orang dewasa dengan berbagai bahasa yang entah—betapa asing. Sepasang manusia senja melintas di depan kami. Mereka …

Setelah 15 Tahun Berpisah

Cerita oleh Hadiwinata Di satu pagi yang lembab, penulis kita berangkat ke ibukota mengenakan setelan orang kantoran. Kemeja putih, dasi, lengkap dengan jas, celana hitam dan sepatu mengkilat. Semalam, hujan lebat turun. Berjam-jam tidak mau berhenti, seperti tangisan penyair tua yang dijatuhi nasib malang. Membuat jalan-jalan menjadi becek, tanah liat menjadi lengket. Hanya satu-dua jalan …

Migran: Migrasi dari Kemiskinan?

Persoalan Buruh Migran di Negeri Jiran Oleh Hadi Winata Di kampungku, Palemraya, satu kampung di Sumatera Selatan, mayoritas masyarakatnya hidup dalam kondisi tidak sejahtera. Ada yang tinggal dengan menumpang di tanah orang, di rumah orang, menyewa rumah selama bertahun-tahun, kesulitan memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari, dan lain sebagainya. Jika melihat lima kelompok kelas konsumsi di Indonesia …

Aku Kehilangan Tulang Rusukku, Apa Kamu Melihatnya?

Cerpen Hadiwinata Kamu jatuh. Suatu sosok mendorongmu dari atas langit, dan membuatmu terhempas di suatu ladang. Kamu bertanya, di mana aku? Di mana tulang rusukku? Kamu lalu berjalan, menyusuri ruang hitam, dan bertemu sebuah rumah. Di dalamnya terdapat dua manusia yang menganggapmu anggota keluarga. Kamu tinggal bersama mereka, bertahun-tahun hingga berwindu-windu. Di sana, ada seorang perempuan …

Barangkali Kamu Mengira Seorang Yang Datang Dari Negeri Terjajah Adalah Keledai

Cerita Hadiwinata Aku, mungkin, memang bodoh, J—persis seperti penilaian yang tampak benar dari sorot matamu. Aku datang dari seberang, dari negeri yang terjajah selama ratusan tahun. Aku bekerja menggunakan tenaga, alih-alih kepala sepertimu dan orang-orang sebangsamu. Tapi, aku bukanlah seekor keledai! Setidaknya untukmu yang terlalu buruk untuk menjadi seorang pendusta. Aku, mungkin, memang keras kepala, …

Tokoh Elio Dalam Kisah Kita

Cerita Hadiwinata Malam itu, (selepas menghabiskan 33 jam bersama) di tepi jalan yang berseberangan langsung dengan shoplot yang kutinggali, J terdiam sementara aku menangis. Entah mengapa, sesekali, bila kupikir-kupikir, aku terkadang berpikiran sempit dan tidak melihat realita. Seperti malam itu, aku merasa jika pertemuan kami pada dua hari tersebut adalah yang pertama sekaligus yang terakhir. …

Selepas Puluhan Tahun Pengembaraan

Cerita Hadiwinata Maridang masih menimbang-nimbang, kalimat seperti apakah kiranya yang paling pas untuk menjelaskan kepada Nana anak pertamanya itu bahwa ia adalah ayahnya. Di dalam tasnya, tersimpan sejumlah uang dan baju batik bercorak Sarawak sebagai oleh-oleh. Juga ada sekantong besar jajanan coklat untuk buah hatinya yang ia peluk sepanjang perjalanan. “Ini aku, bapakmu, Nak!” Apakah …

It Snows Only Once In Our Dreams

Cerita Hadiwinata Selamat malam, J, apa kamu sudah terlelap? Apa lampu sudah kamu padamkan, dan kamu lupa mengisi daya ponselmu? Di malam panjang yang kurasakan begitu sepi ini, lagi-lagi aku merindukannya. Aku begitu merindukan pelukan hangatnya, ciumannya yang bertubi-tubi, dan perhatiannya yang begitu rupa. “Sampaikan salamku untuk ibu dan ayah!” katanya. Aku mengangguk, dan berkata: …

Jiwa-Jiwa Yang Pergi

Cerita Hadiwinata Pria berumur dengan kulit yang terbakar itu memandang jauh ke depan. Sejauh matanya memandang, hanya ada lautan biru yang membentang. Matanya seperti menyiratkan sebuah luka yang mendalam. Kedua tangannya diletakkannya di atas stir kapal. Sementara pikirannya terbang entah ke mana. Ia masih tak habis pikir bagaimana istri yang sangat dicintainya, yang telah hidup …

Semua Orang Telanjang

Cerita Hadiwinata Pemuda itu tampak sumeringah; ia sangat bersemangat. Setelah berdiri dari kursi di balik meja, ia menyentuh banyak angka di layar ponselnya. “… Oke, Kamu urus berkas-berkasnya. Setelah saya selesai melobi mereka dan cair, kita bagi di Jakarta,” “Hati-hati, jangan meninggalkan jejak. Pastikan semuanya bersih,” “Jangan khawatir, saya ahlinya!” * Nama saya Maridang, 27 …

Perempuan Tunggu Tubang

Cerita Hadiwinata Pagi hari ketika siamang masih tidur dan satu-dua harimau meninggalkan jejaknya, aku bersama Tobi suamiku, Neneng, Marni, dan serombongan petani berangkat ke Hutan Desa. Jaraknya sekitar dua kilometer dari perkampungan. Kami berjalan susuri setapak jalan yang di genangi becekan sisa hujan di sana-sini. Kami membawa gunting kebun, cangkul, parang, dan arit. Peralatan yang …