Google App Engine ?
Baru-baru ini Google meluncurkan Google App Engine, sebuah platform aplikasi web yang mendukung ‘full stack’ mulai dari Python, BigTable database access dan GFS data store services.
Rupanya Google mengikuti jejak Amazon, setahun setelah Amazon mengeluarkan Simple Storage Service.
Pertanyaannya, mengapa Google memasuki cloud computing?
Jawaban yang sederhana : Google adalah kandidat yang sempurna. Infrastruktur yang dimiliki memang dibuat untuk hal-hal seperti ini. Dari ‘full stack’ yang dimilikinya, Google memudahkan beban para developer. Dan itulah cara Google menarik perhatian para developer. Tidak perlu khawatir dengan RAID drives, backups, load balancing, provisioning instances or servers, data storage, file serving. . .
Namun pastinya ada ’skenario besar’ dari kebaikan hati Google ini. Dengan meluncurkan App Engine, Google akan menarik banyak perhatian para Web 2.0 developer yang khawatir akan konfigurasi infrastruktur yang harus dilakukan.
Berbeda dengan platform yang ditawarkan Amazon, aplikasi yang dibuat dalam App Engine otomatis akan bergantung dan disesuaikan dengan infrastruktur Google dan bukan infrastruktur Windows/Linux pada umumnya. Apa yang terjadi apabila aplikasi yang Anda buat berhasil populer ? Kemungkinannya, hanya Google yang akan ‘membeli’ aplikasi Anda.
Contohnya seperti ini: jika detikcom berada dalam infrastruktur Google dan saat ini memiliki valuasi sebesar $11,385,000 (Gunakan dnscoop.com untuk mengecek valuasi suatu website), kemungkinan investor untuk melego dengan harga tersebut sangatlah kecil. Mengapa ? Karena akan ada proses migrasi lagi dari non-generik infrastruktur ke platform yang baru. Bisa jadi dengan berbagai alasan tersebut, detikcom hanya mendapatkan penawaran dari investor sebesar 1/2 dari valuasinya (misal $5M). Sedangkan bagi Google, nilai detikcom sesungguhnya pasti > $11M karena saat ini memang sudah berada dalam infrastruktur Google dan tidak ada proses migrasi lagi. Namun demikian, Google dapat datang sebagai ‘juru selamat’ ke detikcom dengan harga penawaran yang ‘lebih baik’ sebesar $7.5M yang sebenarnya harga tersebut masih jauh dibawah nilai valuasi detikcom di mata Google.
Jadi kelihatannya, ini adalah win-win solution (atau win-lose solution bagi yang skeptis) dan merupakan cara yang sempurna untuk Google mendapatkan para ’startup’ dengan harga murah. Sekaligus’menghalangi’ para pesaing untuk membeli the Next Big Thing. ![]()