Indonesia 2030, Chris Gardner dan Mestakung
Indonesia 2030
Tahukah Anda, 23 Tahun dari sekarang - negara kita : Indonesia, di prediksi akan menjadi salah satu dari 5 kekuatan ekonomi dunia. Bukan main-main, yang bicara ini adalah kepala negara kita : Presiden SBY. Dalam Visi Indonesia 2030, setidaknya ada 4 buah pencapaian utama : Pendapatan 18.000 per kapita, pengelolaan Sumber Daya Alam, self growth dan 30 perusahaan Indonesia yg masuk 500 besar dunia.
Sekedar kampanye ? Bisa ya, bisa tidak. Sekalipun ini sekedar kampanye atau istilah yg dibuat diluar sana adalah “Tebar Pesona”, saya tidak akan mengumbar janji 20 tahun dari sekarang, lebih baik saya “Tebar Pesona” untuk 2-3 tahun ke depan. Namun Visi Indonesia 2030 ini beda, sangatlah beda, dan jika Anda bukan orang yang skeptik mudah-mudahan akan bergabung dengan saya untuk mengamini visi ini.
Dalam artikel Mapping The Global Future, di prediksi Indonesia berpotensi menjadi lapis berikutnya setelah kekuatan ekonomi India dan China. Sedikit quote dari cuplikan artikel tersebut adalah “The economies of other developing countries, such as Brazil and Indonesia, could surpass all but the largest European economies by 2020″ . Saya pernah berdiskusi dengan teman dari Phillipine, kebetulan dia bekerja di Microsoft Asia Pacific Regional, dan pernah dia ungkapkan bahwa “Your country is like the China of South Asia. You have a plenty of natural resources, land and population”. Singkat cerita, negara kita masih menyimpan potensi layaknya negara China yang bertahun2 yang lalu dilanda kemiskinan, kesusahan dan menutup diri untuk memperbaiki dari dalam dengan istilah Negeri Tirai Bambunya. Saat ini, RRC maju bukan karena 1-2 kota namun banyak kota kecil yang ternyata sangat bergerak ekonominya. Indonesia baru memulai otonomi daerah beberapa tahun yang lalu, yang hasilnya mungkin baru akan terlihat 5-10 tahun ke depan..
Lalu, apakah ramalan ini akan terjadi ? Saran saya, jangan tanya Mama Laurent
Jika anda saat ini tinggal di Indonesia, coba lihat sekeliling, terlepas dari kepenatan dan keruwetan jalanan dan politik kita, ternyata ada beberapa kabar baik yg bermunculan.. Papua sedang membangun stasiun peluncuran luar angkasa dengan Rusia, Indeks Harga Saham Gabungan mencapai 1900, Bank Indonesia (bisa) menahan laju penguatan Rupiah agar tetap di 9.000an (dan bukan di <9000.an, karena banyaknya dana luar asing yg konon masuk ke Indonesia [belum lagi uang Tommy yg di BNP yah]), kemudian pertumbuhan ekonomi Indonesia yg tertinggi di Asia Timur... Sama seperti Anda, sayapun sudah muak dengan kabar buruk yang terus berseliweran sejak 1998 yang lalu.. Namun, analisa berikut yang membandingkan antara Google dan Indonesia dari Bloomberg pasti akan menarik untuk dibaca. Tolong jangan marah, apabila anda merasa negara kita ‘hanya’ dibandingkan dengan sebuah perusahaan swasta Amerika berumur 5 tahun.. Jangan mengambil sudut pandang itu, namun coba lihat bagaimana para investor diluar sana menganalisa potensi jangka panjang yang tersimpan di negara kita.
Chris Gardner - Pursuit of HappYness
Lalu apa hubungannya dengan Chris Gardner ? Jika hari ini Anda harus memilih harus menonton 300 atau Pursuit of Happyness.. Saran saya adalah ambil film yang ke 2. Film itu bukan sekedar film, namun berkisah mengenai miliarder Amerika yang bernama Chris Gardner. Melalui wikipedia, anda akan mengetahui bahwa Chris Gardner adalah pemilik dari perusahaan broker saham miliarder dollar yang sangat sukses. Namun, melalui buku dan film yang dibintangi Will Smith inilah, kita seakan melihat sosok Chris Gardner dari sisi yang berbeda.
Di tahun 70-80an, Chris Gardner adalah seorang tuna wisma, secara teori saat itu dia bangkrut dan tidak bisa memiliki penghidupan yang layak. Singkat cerita, dia bertemu dengan seorang yang menggunakan Ferari merah, dalam bukunya disebutkan Chris menawarkan parking lot yg dia miliki dengan dua buah pertanyaan. “What are you doing ?” dan “How do you do that ?”, orang tersebut ternyata pialang saham, dan menginspirasi Chris untuk berpindah jalur dari pekerjaan yang ditekuninya.
Satu keberhasilan membawa ke keberhasilan yang lain, dan kehidupannya yang sulit dimasa lalu seakan membuat Chris ingin terus berjuang, bukan, bukan ambisius, mungkin hanya naluri yang membuat Chris terus berjuang sejauh mungkin menghindari masa kelam nya di awal 80an. Hari ini dia seorang miliarder.. Dan dalam salah satu scene di film Pursuit of Happyness, Ronal Reagan berpidato bahwa kondisi ekonomi US saat ini sedang buruk dan pemerintah sedang berusaha untuk membawa ekonomi US ke arah yang lebih baik.. Saat itu Chris Gardner tidak mendengarkan, karena sedang mencari akal untuk menghidupi keluarganya.
MESTAKUNG - Semesta Mendukung, Yohanes Surya
Kemudian ada Mestakung (Semesta Mendukung) konsep sukses yang digunakan dan diperkenalkan Yohanes Surya pada Tim Olimpiade Fisika. Prof Yohanes, memiliki peluang yang luar biasa banyaknya beberapa tahun yang lalu untuk mengajar di luar negeri. Namun bayangkan, Pak Yohanes lebih memilih pulang ke Indonesia - cita-citanya satu : membentuk tim dan memenangkan olimpiade Fisika Dunia.
Apa yg dilakukan Pak Yohanes mengingatkan saya akan film The Hero yg dibintangi Jet Lee. Dalam film itu diceritakan, No Name (Jet Li) berhasil mengalahkan musuh2 raja dimana setiap kali 1 musuh berhasil dibunuh, maka No Name berkesempatan 15 kaki lebih dekat untuk minum teh dengan raja. Dalam hati, No Name sebenarnya berniat membunuh raja. Rupanya No Name membunuh musuh raja sebagai alasan untuk dapat lebih dekat dengan Sang Raja, untuk menuntaskan dendam kesumat karena telah membunuh keluarga No Name dalam peperangan antar kerajaan.
Sampai akhirnya, kesempatan itu tiba - No Name yang memiliki jurus jitu dapat membunuh raja dalam satu kali loncatan saja. Namun, pada saat detik terakhir itulah Sang Raja mengungkapkan satu istilah ‘Satu Negara’. Dalam sekejap No Name yang begitu benci dengan Sang Raja mengurungkan niatnya untuk membunuh Raja. Terlalu banyak perang antar kerajaan yang terjadi di China saat itu, membuat No Name memutuskan untuk tidak membunuh Sang Raja. Karena hanya Raja tersebut itulah yang dapat menyatukan ‘Satu Negara’, jika Sang Raja dibunuh demi memuaskan dendam kesumatnya - China pasti kembali ke peperangan antar kerajaan. Akhirnya No Name mengurungkan niatnya, pada akhir cerita No Name akhirnya dibunuh oleh pasukan Raja, namun No Name lah pahlawan (The Hero) sebenarnya dari cerita tersebut.
Saya sangat merekomendasikan Anda untuk menonton film tersebut, dan juga membaca buku Mestakung karangan Yohanes Surya yang banyak dijual di toko buku terkemuka.
Saya pernah memposting topik “Proud to be Indonesian !!!” beberapa waktu lalu yang menceritakan detik-detik setelah Indonesia dinobatkan sebagai absolute winner Olimpiade Fisika beberapa waktu yang lalu.
Dalam bukunya, dijelaskan secara gamblang bagaimana para tim olimpiade fisika menggunakan konsep mestakung untuk meraih kesuksesan. Yohanes percaya dengan rahasia suksesnya : Tempatkan diri pada kondisi kritis. Sedangkan Mestakung adalah dukungan dari semesta untuk membantu keluar dari kondisi kritis. Sedangkan yang dimaksud dengan semesta adalah sel-sel dalam tubuh kita, lingkungan disekitar kita sampai lingkungan diluar yang jauh. Konsep ini menembus batas kepercayaan seseorang, latar belakang budaya, suku dan agama. Bahwa dalam kondisi kritis, baik itu yg memang terjadi secara alami ataupun dikondisikan kritis - malah menjadi semacam bahan bakar untuk meraih tujuan kita.
Tidak perlu bingung-bingung memahami mestakung-nya Pak Yohanes, nonton sajalah film Pursuit of Happyness - maka Anda akan mengerti ‘kunci sukses’ yg dengan cerdik di ‘rumus’kan oleh Yohanes Surya. Jika Anda saat ini sedang berada di masa krisis, ingatlah saat Will Smith duduk di tepi ranjang dan terdengar pidato Ronal Reagan yang berjanji akan membawa ekonomi ke arah yg lebih baik. Hanya saja kali ini, bukan Reagan yang berbicara - namun Pak SBY yang mempercayai bahwa tahun 2030 Indonesia akan jauh lebih baik.
Chris Gardner hanya membutuhkan waktu 20 tahun untuk mewujudkan happyness-nya, sejak dia duduk di tepi ranjang sebagai seorang tuna wisma dan mendengarkan Ronal Reagan bicara… Mungkin, 20 tahun dari sekarang - setelah mendengarkan Visi 2030 nya Pak SBY - Anda malah menjadi seorang Chris Gardner. Meskipun yang difilmkan dan dibukukan hanyalah 1 orang Chris Gardner, namun saya yakin sejak the Great Depression yang dialami US di masa lalu banyak sekali ‘Chris Gardner’ yang dilahirkan sehingga US menjadi maju seperti sekarang.
Bagaimana, Anda siap menjadi seorang ‘Chris Gardner’ atau malah Anda bertekad mencetak puluhan atau ratusan orang ‘Chris Gardner’ untuk 2030 nanti ? ![]()
Tadi saya copy kalimat ini
“negara kita masih menyimpan potensi layaknya negara China yang bertahun2 yang lalu dilanda kemiskinan, kesusahan dan menutup diri untuk memperbaiki dari dalam dengan istilah Negeri Tirai Bambunya. Saat ini, RRC maju bukan karena 1-2 kota namun banyak kota kecil yang ternyata sangat bergerak ekonominya. Indonesia baru memulai otonomi daerah beberapa tahun yang lalu, yang hasilnya mungkin baru akan terlihat 5-10 tahun ke depan”
buat tugas.
Maap, ijinnya telat, lagi buru2 sih.
Thx
Gue setuju dengan visi 2030…seperti chris gardner (saya nonton the pursuit of happyness) yang semula, orang yang disekitarnya -teman, pacar atau mantan istri- bahkan tidak mengira hidupnya akan berubah 180derajat menjadi milyarder.
maka indonesia juga punya 99% keberhasilan itu.
Semoga bangsa kita Indonesia banyak yang menonton the pursuit of happyness sebagai inspirasi dibandingkan sinetron yang merusak.
Ini kenyataan bahwa 75% orang Indonesia mempunyai mental “nerimoan” dan hanya menjalani hidup sehingga tidak mempunyai daya untuk mengejar suatu impian..dan selalu berpikir..”MANA BISA”
SEMOGA ada 100 orang Chris Gardner yg cukup menyadari bahwa setiap orang yang sudah berhasil..harus atau wajib membawa 100 orang lagi menuju mental yang berkemenangan..maka 20th lagi Visi 2030 SBY tercapai.
Wah…saya baru saja nonton filmnya di komputer….
Mudah mudahan saya dan banyak orang yang nonton film ini tergugah….
If you want something…pursuit on it…with heart, passion and everything you have…you will earn it…
Jangan lupa…nonton yah…
no gain no pain kayaknya masih bukan hukum menuju sukses di negeri kita, sungguh aku merasa ngeri melihat anak-anak muda saat ini khususnya mereka yang masih sekolah. mereka sangat jauh dari etos yang menjunjung kerja keras demi sebuah kesuksesan. mereka mudah sekali mencari jalan pintas dan mudah sekali menyerah hanya karena menemui halangan yang sangat ringan sekalipun.
selama 3 tahun lebih aku berinteraksi dengan anak-anak sekolah dari sd sampai sma dalam sebuah kursus bahasa inggris di kota gresik. dari sekian waktu, sepertinya ada semacam pola yang sama dari tahun ke tahun. mereka lebih berfokus pada hasil daripada proses penguasaan materi. ketika mereka mengalami kegagalan, bukannya memikirkan bagaimana memperbaikinya namun sibuk untuk menawar agar dapat lulus dengan mudah atau sibuk mencari cara agar mereka dapat jawaban dengan mudahnya. kalau sudah “mentok” mereka pasti mengatakan “ya sudah berhenti saja, buat apa belajar kl ga lulus”. terus terang aku mengelus dada, nelangsa melihat sikap yang demikian. fenomena ini tidak terjadi pada satu atau 2 orang, namun hampir semua siswa. terlepas dari sistem pendidikan di negara ini, sikap anak-anak saat ini mungkin juga akibat pendidikan yang ada di alam keluarga yang menjauhkan anak-anak mereka dari arti kerja keras.
apa yang aku lakukan juga menjadi bagian visi 2030, dengan ikut serta mempersiapkan para generasi muda untuk siap menghadapi tantangan masa depan yang bertambah berat dari waktu ke waktu.
dari sekian usaha untuk mencapai visi itu, adalah bagaimana mengubah mindset atau paradigma setiap individu bangsa ini agar selaras dan sinergis dalam mencapai visi 2030. itulah yang diinspirasikan oleh Chris Gardner.
ini yang aku ingat Sukses (Success) datang sebelum kerja keras (Work) hanya ada dalam kamus.
sukses selalu
tommy
Mudah-mudahan ini bukan sekedar mimpi saya. Visi 2030 SBY sangat sejalan dengan mimpi saya.
Beberapa kali saya bercerita kepada orangtua, saudara dan teman tentang mimpi dan obsesi saya ini. Diantara mereka malah melecehkan saya dan menuduh saya kurang waras.
Meski saat ini saya bukan siapa-siapa, saya yakin saya bersama visi SBY 2030. Sebuah mimpi, harapan dan cita-cita untuk memimpin Indonesia menjadi sebuah negri yang bermartabat, damai, maju, adil dan sejahtera.
Semoga alam dan Tuhan mendukung niat luhur saya.