3 Tahun bersama Microsoft Indonesia
Apa mimpi Anda ketika masih SMA, saat kuliah atau baru lulus kuliah beberapa tahun yang lalu ? Sewaktu SMA, mimpi saya sederhana, saya ingin masuk ke bangku kuliah. Untuk sebagian orang ‘duduk di bangku kuliah’ mungkin hal biasa, suatu jalan yg memang harus dan pasti dilewati. Untuk saya, saat itu, kalimat ‘duduk di bangku kuliah’ merupakan sesuatu yang serius bahkan hampir seperti impian. Namanya juga mimpi, bisa tercapai bisa juga tidak.. Tergantung hoki kata orang, namun saya selalu percaya hanya dengan usaha kita hoki itu bisa datang. Kemudian sewaktu kuliah, mimpi saya pun sederhana, saya ingin bisa membiayai kuliah sampai selesai. Jalan terbuka, saya mendapat kesempatan menjadi instruktur programming dan mengerjakan proyek2 kecil sebagai sampingan. Ketika hampir lulus kuliah, mimpi saya adalah berguna bagi orang banyak sambil berusaha menjadi lebih baik dari segala hal.
Satu demi satu impian saya tercapai, salah satunya adalah ketika saya diterima di Microsoft Indonesia 3 tahun yang lalu. Not a big deal, Microsoft Indonesia, bukan Microsoft Redmond, Google atau Apple. Namun untuk saya ini adalah sesuatu yang besar, sejak pertama kali berkenalan dengan IT - selain Open Source, nama Microsoft sangat berkesan untuk saya. Salah satu kontribusi Microsoft yg berguna bagi saya adalah VB, yeap… VB, berangkat dari dua huruf inilah saya mulai merintis karir di dunia IT. Mungkin suatu saat kalau saya dianugerahi seorang putri akan saya namakan Phoebe (baca : VB)
Banyak hal yang saya pelajari dan alami sejak 3 tahun bersama Microsoft, termasuk hasil dan pengalaman yang saya dapatkan untuk diri sendiri dan keluarga. Ketika Anda bergabung bersama salah satu perusahaan terbaik di dunia, tidak ada cara lain untuk ’survive’ selain push yourself agar dapat bekerja bersama smart & best people in the market. Dan seperti yang diungkapkan Yohannes Surya, hanya dengan memposisikan diri di kondisi kritis lah kita dapat mencapai tujuan kita.
Sejak 16 Maret 2007 lalu, saya sudah mulai mengambil cuti panjang sampai formal departure saya dari Microsoft Indonesia tanggal 17 April besok. Tidak mudah untuk mengambil keputusan ini, apalagi mengingat selama ini saya membangun karir dan reputasi saya total di IT, dan Microsoft adalah perusahaan idaman saya sejak lama.
Saya dan keluarga memutuskan untuk memberi waktu 2-3 tahun untuk membantu usaha keluarga di bidang kontraktor dan trading. Saya menggunakan istilah ‘memberi waktu’ karena memang saya cukup beruntung masih memiliki waktu untuk ‘belajar’. Usaha yang akan saya pelajari pun berbeda 180 derajat dari apa yang selama bertahun-tahun ini saya geluti. Belum lagi usaha tersebut bukan di Jakarta namun ada di daerah, Palangkaraya - Kalimantan Tengah lebih tepatnya.
Hal ini membuat saya teringat ketika saya dan rekan menemui salah satu pemilik perusahaan distributor makanan. Judulnya sederhana : distributor makanan, namun omset perusahaan tersebut milyaran - kontras dengan penampilan sang owner yang cukup menggunakan kemeja biasa dan masih menggunakan Kijang sebagai kendaraan sehari-harinya. Saat diskusi, saya iseng2 bertanya :
“Om, asik juga yah punya usaha sendiri, kalau saya ada modal saya juga mau nih buka usaha seperti ini ?”
“Belum tentu lho, kalau misalnya kamu nanti punya modal dan jelas-jelas untungnya lumayan (termasuk resikonya). Belum tentu kamu akan ambil kesempatan itu..”
“Kenapa tidak ?” saya balik bertanya kepada pria separuh baya tersebut
“Anggap saja Kamu sedang berlayar, Kamu tahu bahwa di tengah lautan sana banyak pedagang yang menjual barang-barang antik yang kalau dijual kembali untungnya bisa puluhan kali. Belum tentu kamu berani ambil resiko untuk meraih keuntungan tadi.. Kamu pasti khawatir apakah barang tersebut laku kembali dijual, apakah tidak akan ada badai, apakah barang tersebut tidak cacat. apakah tidak ada perompak di tengah jalan , apakah anda akan pulang dengan selamat, dst nya”
Saya tidak menjawab, namun apa yang dikatakan Pak Tua ini benar 100 %. Apakah saya berani mengambil resiko tersebut ? Apakah anda akan mengambil kesempatan tersebut ?
Situasi yg digambarkan Pak Tua beberapa tahun lalu, saya alami pada saat saya harus memutuskan apakah saya ingin melanjutkan usaha keluarga atau melanjutkan karir saya di Microsoft. Apakah saya akan berhasil melanjutkan usaha ini? Apakah ini bidang yg cocok dengan saya ? dan berbagai pertanyaan lainnya..
Akhirnya saya mengambil keputusan untuk meninggalkan Microsoft. Walhasil, dari 10 teman yang peduli dengan saya, 8 diantaranya terheran-heran dan sisa 2 orang setuju dengan keputusan yang saya ambil. Mereka yang terheran-heran biasanya bereaksi seperti ini :
“What happened sih ? Udah mapan gitu di Microsoft ?”
atau
“Elo lanjutin usaha keluarga ? Keluarga siapa dulu ? Jangan2 Keluarga Sampoerna yah ?”
atau
“Udah deh, ini basi, paling bulan depan elo masuk ke Dell”
atau
“Man, you are crazy.. said it ain’t so. You are so Microsoft, are you happy with this decision?”
Dari 10 teman yang memberikan respon tersebut, kesepuluh-sepuluhnya adalah teman terbaik saya. Dan dari 10 alasan yg diberikan, kesepuluh-sepuluhnya adalah benar..
Bedanya saya tidak bisa ditengah-tengah dan karena ini masalah keluarga saya perlu mengambil keputusan. Bahkan dengan diam tanpa keputusan pun sudah menjadi sebuah keputusan.
Namun ketika saya mempertimbangkan banyak hal, dimana situasi saat ini masih memungkinkan, salah satunya karena saya masih memiliki ‘waktu’. Dan juga impian saya yaitu berguna bagi banyak orang dan berusaha menjadi lebih baik dari segala hal, akhirnya saya mengorbankan beberapa hal untuk mengejar impian tersebut.
So, Thank You Microsoft, for all of my friends please remember this sweet sentence from E. Roosevelt “The future belongs to those who believe in the beauty of their dreams”.
kenapa ngga didelegasikan ke saya pak?
overqualified gak yah ? hehehe… saya saja statusnya gak ada MVP-MVP an lho, gak berani deh mendelegasikan ke elo zik
Mario, dunia diluar sana luas sekali loh… so 3 tahun udah cukup hidup di dunia Microsoft….believe me. Jadi sekarang kamu punya 3 orang yang setuju dengan keputusan kamu.
gak ada pilihan yang benar / salah yang ada pilihan yang sudah diambil.. hidup dengannya dan nikmati
Pengalaman yang begitu mengesankan. Terima kasih telah berbagi cerita dan pengalaman.
bang aq gmana caranya kok bisa diterima di microsoft n dmana aq bisa lihat lowongan kerjaan yang disediakan microsoft…
thanks b4
bos…keluar dari microsoft adalah tindakan yang betul…dia secara sadar telah menjajah indonesia..liat aja Mou nya antar indonesia dengan microsoft….
katanya sih mau memajukan pendidikan di indonesia….lawong bilgatenya aja ga lulus kok…gimana tuh
Selamat boss, hidup harus terus berlanjut, perjuangkan dan nikmati.
Untuk Anda Ipin “(ipin Says:
March 1st, 2008 at 11:38 am
bos…keluar dari microsoft adalah tindakan yang betul…dia secara sadar telah menjajah indonesia..liat aja Mou nya antar indonesia dengan microsoft….
katanya sih mau memajukan pendidikan di indonesia….lawong bilgatenya aja ga lulus kok…gimana tuh)”
Mendingan yg kagak lulus tapi sukses, dari pada lulus perguruan tinggi hanya jadi pengangguran … he he he
Untuk Bill Gates, Anda sekarang sedang cari kerjaan juga kan?
Salam kenal pak Mario..terimakasih sudah berbagi cerita tentang pengalaman bekerja di Microsoft Indonesia..dan selamat untuk terus berjuang (lagi) di “medan perang” yg berbeda..terakhir bisakah pak Mario mengirimkan alamat HRD Microsoft Indonesia?? karena seperti pak Mario (dulu), Microsoft adalah perusahaan idaman saya sejak dulu..terimakasih..GBU..
Buat Mas/Mbak Djie dan Teman2 lainnya,
Terima Kasih buat komentar2nya, untuk informasi vacancies di Microsoft, silahkan lihat di situs ini : http://www.microsoft.com/asia/careers/search.aspx
Jgn lupa traktir2 kalau dapat job disana, yg pasti very recommended place untuk yg mau meniti karir sebagai profesional.
ps : MS Indonesia termasuk cepat perkembangannya, 1 tahun tidak berhubungan dengan Microsoft - kemarin sudah banyak ‘orang2 baru’ yg jago-jago